Arema Putri gelar TC di lapangan berumput sintetis hingga dua periode sebagai bagian dari persiapan menghadapi putaran nasional Hydro Plus Soccer League (HPSL) 2025-2026. Pelatih Nanang Habibi menyebut program tersebut sengaja disusun agar para pemain lebih cepat beradaptasi dengan kondisi lapangan yang akan digunakan di Super Soccer Arena (SSA), Kudus.
Putaran nasional HPSL dijadwalkan berlangsung mulai 5 Juli 2026. Seluruh pertandingan akan dimainkan di lapangan berumput sintetis, berbeda dengan fase regional yang menggunakan rumput alami.
Pada kelompok U-15, Arema Putri lolos ke putaran nasional dengan status juara Zona Surabaya. Tim asuhan Nanang Habibi tergabung di Grup A bersama Mojang Priangan (juara Zona Bandung), Putri Surakarta (runner-up Zona Kudus), dan Putri Tangsel City (runner-up Zona Jakarta).
Sementara itu, Arema Putri U-18 melangkah ke putaran nasional sebagai runner-up Zona Surabaya. Mereka menghuni Grup B bersama Akademi Persib Bandung (juara Zona Bandung), Samba Persada Women (juara Zona Kudus), dan Putri Tangsel City (runner-up Zona Jakarta).
“Latihan di lapangan berumput sintetis kami gelar dua periode di awal dan akhir TC. Tujuannya agar anak-anak bisa beradaptasi, karena di pertandingan regional lalu kami bermain di lapangan rumput alami, sedangkan putaran nasional akan digelar di lapangan berumput sintetis,” kata Habibi kepada WEAREMANIA.
Arema Putri Gelar TC di Lapangan Berumput Sintetis untuk Mempercepat Adaptasi
Menurut pelatih yang akrab disapa Pepe itu, bermain di atas rumput sintetis memiliki tantangan tersendiri. Selain suhu permukaan lapangan yang lebih panas, para pemain juga harus menyesuaikan cara bergerak dan menjaga kondisi fisik selama pertandingan.
“Lapangan berumput sintetis itu sangat panas di kaki, jadi seperti menguap di dalam sepatu pemain. Anak-anak harus bisa kuat dan beradaptasi dengan kondisi itu. Kalau tidak terbiasa pasti akan tidak stabil. Itu akan berpengaruh ke kemampuan dan ketahanan tubuh waktu bertanding,” jelas Pepe.
“Pengaruhnya di akurasi operan dan sedikit licin untuk lari,” imbuh pelatih berusia 36 tahun tersebut.
Meski dimainkan di lapangan sintetis, putaran nasional Hydro Plus Soccer League tetap menggunakan bola standar sepak bola, bukan bola futsal. Karena itu, para pemain dituntut mampu menyesuaikan kekuatan dan akurasi operan.
“Untuk tipe bola ya tetap pakai tipe bola sepak bola. Anak-anak harus bisa mengatur akurasi dan power, karena akan lebih cepat alirannya untuk mengoper di lapangan rumput sintetis,” pungkasnya.
