FIKSI: Salam Satu Jiwa dari Dunia Lain

FIKSI Salam Satu Jiwa dari Dunia Lain
FIKSI Salam Satu Jiwa dari Dunia Lain

Salam Satu Jiwa sudah identik dengan Aremania. Lalu apa jadinya jika salam tersebut datang dari dunia lain? Simak kisah fiksi berikut ini.

“Woy, minum dulu, Met!” ucap Dani sembari menepuk pundak Slamet dan menyodorkan sebotol air mineral pada sahabatnya itu.

“Eh, ya. Makasih,” Slamet tersenyum lalu mengambil air mineral yang diberikan Dani. Pemuda 27 tahun itu meminum air dari dalam botol beberapa teguk, sebelum akhirnya kembali fokus pada kegiatannya semula.

Kedua pemuda sebaya itu duduk di salah satu tribun Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar,Bali. Lengkap dengan atribut serba biru dan kamera digital di tangan masing-masing, mereka menantikan Arema, tim yang mereka dukung, memasuki lapangan pertandingan untuk melawan tim tuan rumah Bali United.

Tak hanya Slamet dan Dani yang sengaja datang dari Malang untuk melihat langsung pertandingan Liga 1 di akhir pekan tersebut. Ada lebih dari seribu Aremania lain yang turut membirukan tribun, baik yang berasal dari Malang, kota-kota sekitarnya, maupun dari Bali sendiri. Tak heran jika suasana dalam stadion begitu ramai oleh nyanyian yel-yel dari Aremania, kelompok pendukung Arema.

Beberapa kali Slamet melirik jam tangannya. Pertandingan yang dinantinya, akan dimulai sekitar satu jam lagi. Tak masalah baginya meski harus menunggu berjam-jam di bawah terik matahari sejak sore hari.

“Asli Ngalam, Sam?” terdengar sapa seseorang dengan nada serak dari samping kanan Slamet.

Slamet menoleh, “Oh, iya, Sam.” jawabnya singkat.

“Ayas Made. Arema Dewata.” lelaki setengah tua itu memperkenalkan diri.

“Ayas Slamet. Salam kenal, Sam.”

“Umak Aremania?” tanya lelaki dengan kaos Arema Dewata melekat di tubuhnya itu. Usianya sekitar 30-an.

Slamet mengernyitkan dahi. Muncul pertanyaan dalam hatinya, apakah penampilannya yang mengenakan kaos dan syal Arema, ditambah lagi statusnya yang memang asli warga Malang tidak cukup memberikan jawaban atas pertanyaan singkat tersebut? Jujur saja, Slamet pun agak tersinggung.

Alih-alih menjawab, pemuda yang juga sedang berkuliah di Universitas Brawijaya itu lebih memilih untuk memotret suasana stadion dengan kamera digitalnya. Ia mengabaikan pertanyaan orang yang baru dikenalnya itu.

Merasa pertanyaannya mungkin agak menyinggung perasaan Slamet, lelaki misterius tersebut mengalungkan tangan kirinya di pundak teman barunya itu. Beberapa kali ditepuknya lembut pundak Aremania yang sibuk dengan kamera digitalnya itu sebagai tanda ucapan minta maaf.

“Salam Satu Jiwa!” begitulah kata-kata lantang yang meluncur dari mulut Made.

Mau tak mau, Slamet pun membalasnya, “Arema!”

Dalam beberapa detik, Slamet mengamati Made yang langsung larut dalam nyanyian dan koreografi Aremania lain yang terlihat apik. Slamet merasa ada yang aneh dengan lelaki yang baru ia temui itu. Sorot matanya saat bertanya apakah dirinya seorang Aremania begitu tajam menusuk ke bola matanya, bahkan menembus ke hatinya. Ia merasa seperti ada hal yang ingin ditegaskan oleh Made padanya. Entahlah..

Satu Jam Berlalu..

Akhirnya kedua tim memasuki lapangan. Para pemain Bali United dan Arema berbaris di lapangan hijau seraya berdo’a. lalu saling berjabat tangan. Usai bersiap di posisi masing-masing, peluit ditiup lantang oleh wasit pertanda kick off babak pertama dimulai. Aremania yang hadir di stadion kini fokus sepenuhnya pada tim yang mereka dukung. Namun, bukan berarti mereka berhenti bernyanyi dan menari di atas tribun.

Sama seperti Aremania lainnya, Slamet ikut hanyut dalam nyanyian di tribun. Nyanyian itu membakar semangat menggebu dalam jiwanya. Ia tak memerdulikan keadaan di sekitarnya. Saat itu, ia merasa bahwa jiwanya terpanggil untuk memberikan semangat pada skuat Singo Edan.

Sayangnya, pada 45 menit babak pertama, Arema kalah serangan dari tim tuan rumah. Hingga jeda turun minum, Arema tertinggal 0-1 dari Bali United. Hal ini tentu membuat Aremania merasa sedikit kecewa. Begitu pula dengan Slamet yang menatap lesu ke arah lapangan.

“Harusnya ada rotasi pemain. Minimal agar tidak kalah serangan begini,” komentar Dani yang juga terduduk lesu di samping kiri Slamet. Sesekali ia memainkan syal yang melingkar di lehernya.

“Semoga saja Arema bisa bangkit di babak kedua.” ujar Slamet singkat menimpali dengan suara serak.

Tak sengaja, Slamet menoleh ke arah kanannya. Ia tak melihat sosok Made di sampingnya seperti sebelum pertandingan berlangsung. Dengan seulas senyum mengejek, Slamet beralih memandang jauh lapangan hijau.

“Tadi ngakunya Aremania. Baru babak pertama saja sudah meninggalkan tribun,” gumam Slamet dalam hati.

Pemuda itu berpendapat bahwa Made meninggalkan tribun karena permainan Arema ‘tak seperti biasanya’. Apalagi di papan skor Arema tertinggal 0-1.

Pada awal babak kedua..

Aremania kembali menyuarakan nyanyiannya dengan harapan dapat membangkitkan semangat para penggawa Singo Edan.

Benar saja, rotasi pemain dilakukan pelatih Milomir Seslija. Permainan Arema mulai hidup lagi. Tak sekedar hidup, Arema mampu menyarangkan dua gol melalui Sylvano Comvalius dan Dendi Santoso. Skor akhir 2-1 untuk kemenangan Arema menjadi penawar rasa letih para Aremania yang sedari tadi menanti dengan harap-harap cemas.

“Alhamdulillah..” Slamet bernafas lega seperti Aremania lainnya.

Sekali lagi, ia menoleh ke samping kanannya. Ia tetap tak melihat Made di sana. Hanya ada Arema Dewata lain yang menggantikan posisi si lelaki setengah tua.

“Maaf, umak kenal Sam Made? Arema Dewata juga,” dengan rasa penasaran, Slamet menanyai orang di sampingnya.

Lelaki sepantaran Slamet itu pun menoleh, “Sam Made? Iya, ayas kenal sama almarhum.”

“Almarhum?” Slamet tak mengerti maksud lelaki itu. Dahinya berkerut samar.

“Iya, Sam. Beliau meninggal dua tahun lalu. Kami merasa sangat kehilangan. Apalagi meninggalnya bisa dibilang tidak wajar. Tragis. Umak kenal Sam Made?” tanyanya dengan raut sedih seperti mengingat masa-masa yang sulit.

“Iya, kenal..” mengucap kata ‘kenal’ membuat Slamet merinding, “Maksudnya, tragis?”

“Gini Sam… Tahun 2010 lalu, Sam Made hadir ke Malang untuk ikut merayakan langsung gelar juara Indonesia Super League yang baru saja didapatkan Arema. Dia datang sendiri, tidak bersama Arema Dewata yang berangkat besoknya,” kenang lelaki itu.

“Di Malang, dia berencana ikut konvoi bersama Aremania lainnya. Tapi, sehari setelah dia sampai di Malang, Sam Made ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri di pinggir jalan oleh warga sekitar.”

Slamet mendengarkan dengan seksama. Ia dapat merasakan bahwa keringat dingin mengalir turun dari keningnya, dadanya pun bergemuruh. Namun, ia berusaha untuk bersikap tenang.

“Sam Made sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa jam. Tapi,…” mulut lelaki itu tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Apa dia meninggal karena dirampok?” tanya Slamet dengan nada penasaran.

“Tidak. Tidak ada barangnya yang hilang saat itu. Hanya saja, sebelum Sam Made meninggalkan kami semua, dia sempat bercerita. Ia terjebak dalam arus konvoi Aremania, mereka merayakan gelar juara Arema itu dengan ugal-ugalan. Nahas, sepeda motornya tak sengaja tersenggol oleh Aremania lainnya, ia pun terjatuh dengan posisi kepala membentur aspal,” tutur lelaki itu.

Jantung Slamet seperti berhenti mendengar penjelasan itu. Pikirannya berkecamuk antara rasa tak percaya juga emosi. Lalu, siapa yang ia temui dan mengajaknya mengobrol sebelum pertandingan tadi?

Tidak! Slamet yakin dirinya tidak berhalusinasi. Apa yang baru saja ia alami adalah nyata. Bahkan, sangat nyata di depan matanya.

“Umak Aremania?” pertanyaan itu kembali terlintas dalam pikirannya yang kalut.

Perlahan Slamet mulai mengerti..

Slamet mengerti maksud pertanyaan yang dilayangkan padanya itu. Mungkin, Made ingin menegaskan padanya bahwa berat sekali menyandang atribut sebagai Aremania. Orang yang beratribut Aremania, bahkan lahir di Malang sekalipun belum tentu sanggup menyandang nama Aremania dengan baik. Jika sudah memutuskan menyandang atribut Aremania haruslah mampu menjaga nama baik identitas tersebut, bukan malah membuat pandangan orang awam terhadap Aremania menjadi negatif. Ya, bisa jadi!

Slamet memejamkan matanya selama beberapa saat, ia menghela nafas panjang. Pemuda itu jadi teringat kata-kata ayahnya yang juga seorang Aremania, “Nak, menjadi suporter itu sulit untuk menyandang status sebagai suporter terbaik. Agar bisa dipandang baik itu panjang jalannya. Tapi, lebih gampang menghancurkan predikat suporter terbaik yang dibangun dengan susah payah tersebut,”

Ya, kenyataannya memang demikian. Sangat sulit membangun imej baik kelompok suporter di kalangan masyarakat awam. Tapi, satu saja tindakan buruk yang dilakukan suporter, bisa menghancurkan imej terbaik tersebut dalam sekejap saja.

Langit di atas stadion semakin kelam, seiring Panpel pertandingan yang mematikan satu-persatu lampu stadion. Slamet bangkit, meregangkan kaki dan tangannya yang terasa kaku. Sungguh, hari ini adalah hari paling melelahkan bagi Slamet. Bukan karena ia kehabisan tenaga untuk bernyanyi bersama kawan-kawannya di atas tribun, tapi lebih menjurus pada pikirannya yang harus menjabarkan satu-persatu kaitan peristiwa aneh di hari itu.

“Dan…” ucap Slamet.

Dani yang sedari tadi sibuk dengan gadget-nya jadi menoleh, “Ya?”

“Aremania tidak dinilai dari kaos yang dia kenakan, syal yang melingkar di lehernya, atau bahkan asal kelahirannya sekalipun. Tapi, Aremania murni lahir atas rasa turut memiliki juga murni karena panggilan jiwa, dan itu tidak dimiliki oleh sembarang orang. Iya, kan?”

Dani turut bangkit lalu tersenyum takjub di samping Slamet. Ia menepuk pundak sahabatnya itu, “Ya, aku sependapat denganmu.”

TAMAT

Disadur dari “Satu Jiwa dari Dunia Lain karya Riska Suci Rahmawati

Cerita di atas hanyalah karangan belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, atau kejadian, itu hanyalah suatu kebetulan.