Muncul Bersama d’Kross, El Kepet Isyaratkan Kembali ke Tribun

Dirijen Aremania lawas, Yosep atau yang akrab disapa El Kepet ini mengisyaratkan bakal kembali ke tribun stadion. Hal itu diutarakannya Di sela-sela peluncuran single terbaru d'Kross berjudul Kita Saudara, di Kandang Singa, Jumat (30/8/2019) sore.
Dirijen Aremania lawas, Yosep atau yang akrab disapa El Kepet ini mengisyaratkan bakal kembali ke tribun stadion. Hal itu diutarakannya Di sela-sela peluncuran single terbaru d'Kross berjudul Kita Saudara, di Kandang Singa, Jumat (30/8/2019) sore.

Dirijen Aremania lawas, Yosep atau yang akrab disapa El Kepet ini mengisyaratkan bakal kembali ke tribun stadion. Hal itu diutarakannya di sela-sela peluncuran single terbaru d’Kross berjudul Kita Saudara, di Kandang Singa, Jumat (30/8/2019) sore.

Kepet merupakan dirijen legendaris Aremania saat mendukung Arema di Stadion Gajayana Malang, era Liga Indonesia tahun 2000-an. Dulu, tribun belakang gawang selatan menjadi area kekuasaannya memimpin Aremania meneriakkan chant-chant penyemangat bagi tim Arema yang berlaga.

Sejatinya, sejak memutuskan pensiun dari aktivitasnya sebagai dirijen kala Arema boyongan ke Stadion Kanjuruhan Malang, Kepet masih setia datang untuk neribun. Hanya saja, diakuinya, dirinya cuma datang sebagai penonton, bersama keluarga.

“Saya akan kembali ke tribun suatu saat, saya akan menggelar jumpa fans, bukan jumpa pers ya. Saya akan mengumumkannya segera, kalian media akan menjadi orang pertama yang saya kabari,” kata Kepet.

Menepis Gosip Pecahnya Aremania karena Komunitas

El Kepet angkat suara terkait munculnya banyak komunitas dengan nama-nama aneh yang memicu gosip perpecahan di antara Aremania. Menurutnya munculnya kelompok-kelompok kumunitas baru itu merupakan hal yang wajar.

Pria yang juga seorang penyiar di sebuah radio swasta ini menilai itu bukanlah perpecahan, tapi sebaiknya disebut tidak kompak. Perbedaannya, dulu namanya Korwil (Koordinator Wilayah), kalau sekarang generasi milenial Aremania lebih suka menyebutnya dengan nama komunitas.

“Sebenarnya bukan terpecah-belah, kalau dibilang tidak kompak itu wajar. Satu stadion itu isinya berapa orang? Ada berapa kepala? Tentu susah menyatukan ribuan kepala dengan bermacam pikiran yang berbeda-beda,” pungkasnya.