FIKSI: Senja di Stadion Kanjuruhan

FIKSI: Senja di Stadion Kanjuruhan
FIKSI: Senja di Stadion Kanjuruhan (C) DGK

Suci mulai merasa jenuh dengan hubungannya bersama Bayu. Gadis berparas cantik ini merasa bahwa kekasihnya kini mulai berubah. Hubungan keduanya seolah menjauh perlahan. Bahkan, dalam sebulan terakhir ini Bayu sudah jarang menghubunginya, meski hanya sekadar mengirim pesan singkat.

Sekalinya mereka nge-date berdua, Bayu selalu menjadikan Arema sebagai topik pembicaraan. Maklum, pemuda yang kini berusia 23 tahun tersebut adalah seorang Aremania.

Awalnya, Suci tertarik membahas dunia sepak bola terutama yang berkaitan dengan Arema, karena ia pun seorang Aremanita. Jujur saja, gadis itu mulai menyukai bola dan menyatakan diri sebagai Aremanita karena Bayu, kekasihnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, Suci jadi merasa terabaikan. Meskipun Bayu sedang bersamanya, tetapi pikiran pemuda itu selalu tercurah untuk klub yang dicintainya.

Sebagai seorang gadis, Suci tentu merasa cemburu. Ia cemburu pada klub sepak bola, Arema, yang mendapatkan perhatian lebih dari kekasihnya. Bagaimana tidak cemburu jika Bayu selalu memiliki waktu untuk menonton pertandingan Arema, entah itu laga kandang maupun tandang. Segala kegiatan yang berkaitan dengan Arema, Bayu selalu mengetahuinya. Sedangkan hubungannya bersama Suci jarang mendapat perhatian. Sayangnya, Suci lebih memilih diam saja dan berusaha mengimbangi pembicaraan Bayu. Gadis itu berharap Bayu sadar tanpa harus Suci mengatakan kecemburuannya yang tak lazim.

Suatu sore..

Suatu sore, Suci duduk di depan meja belajarnya. Sepasang mata coklatnya yang indah beralih menatap kalender yang menempel di dinding. Jemarinya yang lentik menggeser kalender yang penuh coretan di tiap bulannya itu, lalu jarinya menunjuk satu tanggal.

“Besok aku ulang tahun. Apa kamu inget itu, Bayu?” Suci bertanya, lebih kepada dirinya sendiri. Ia tak yakin bahwa Bayu mengingat hari ulang tahunnya.

Beberapa saat kemudian, matanya kembali teralih ke benda lain di atas meja. Benda itu adalah sebuah foto yang dibingkai dengan frame hati. Suci semakin tenggelam dalam rasa rindunya pada sosok Bayu yang dulu, begitu ia melihat foto dalam frame itu.

Gadis itu meraih foto yang menjadi salah satu kenangan terindahnya bersama Bayu. Dalam foto itu, berdiri dirinya di samping Bayu. Keduanya berwajah ceria. Mereka tampak kompak mengenakan jersey Arema dan syal melingkar di leher masing-masing. Bayu yang lebih tinggi beberapa senti dari Suci, merangkul pundak kekasihnya. Sementara itu, Suci sendiri memeluk sebuah boneka singa yang diberikan Bayu padanya. Foto itu diambil dengan latar belakang Stadion Kanjuruhan. Karena, pada saat foto diambil, keduanya berencana menonton Arema yang menjamu tamunya dari Jakarta.

Suci tersenyum samar, namun ia tak mampu membendung air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Sungguh, saat ini ia merindukan Bayu. Ia rindu akan perhatian pemuda itu, candaannya, juga wajahnya. Yang ia inginkan saat ini adalah kehadiran Bayu disisinya.

Tengah Malam..

Suci terkejut mendengar dering ponselnya. Ia melihat jam dinding di kamar sambil mengerjap-ngerjapkan mata.

“Ini masih jam 12 malam. Siapa sih yang usil nelfon jam segini?” gerutu Suci sambil menyambar ponselnya yang tergeletak di lantai. Rupanya, saat gadis itu terlelap, tanpa sengaja kakinya menendang ponsel itu hingga jatuh dari tempat tidur.

“Bayu…” mata Suci melotot melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

“Iya, Hallo…” Suci menerima panggilan dari Bayu dengan raut senang. Namun, mendadak sambungan terputus. Suci pun kembali menggerutu. Dalam hatinya, kalau tidak niat iseng tak usahlah tengah malam seperti ini.

“Sayang, maaf ya aku bangunin kamu tengah malam begini.” kata Bayu melalui pesan singkat di Whatssapp.

Suci tersenyum malu membacanya. Ia tak menyangka bahwa Bayu yang menurutnya sibuk ternyata masih menyempatkan diri untuk menghubunginya.

Suci yang bermaksud membalas pesan itu dengan kalimat normatif, ‘nggak apa-apa kok’ seketika jadi urung begitu pesan Bayu berikutnya masuk.

“Sayang, selamat ulang tahun yang ke-21, ya. Aku berdo’a, semoga cewek cantik ini selalu mendapatkan yang terbaik,” Bayu memotong chatnya, “Aku.. sayang kamu. Aku mau kita ketemu di Stadion Kanjuruhan nanti sore, jam 4, kita nonton Arema.”

“Tapi…” balas Suci. Namun, pesan itu hanya dibaca saja oleh Bayu.

Beginilah sifat Bayu, jika ia benar-benar ingin sesuatu dari Suci, maka pemuda itu takkan memberikan kesempatan bagi kekasihnya untuk bertanya atau berkata sesuatu. Suci tahu bahwa itu artinya suatu keharusan. Gadis itu menghela nafas panjang lalu tidur kembali dengan senyum merekah menghias bibirnya.

Hampir Sejam Menunggu..

Sudah hampir sejam Suci menunggu Bayu di Stadion Kanjuruhan. Langit sore yang cerah kini mulai berwarna jingga. Namun, ia tak melihat tanda-tanda kehadiran Bayu. Hanya Aremania Aremanita yang lalu lalang menuju ke pintu masuk. Cukup ramai sore itu, karena Arema akan menjalani laga kandang menjamu PSIS Semarang.

“Kamu kemana sih? Masa kamu bohongin aku?” Suci menggerutu, ia mulai merasa kesal.

Tiba-tiba sepasang telapak tangan menutup matanya dari belakang. Suci nyaris berteriak namun ia urungkan begitu mendengar suara seseorang yang tak asing di telinganya.

“Ayoo.. Tebak ini siapa?”

Suci tersenyum, “Bayu.. jangan iseng dong.”

Bayu yang berdiri di belakang Suci langsung tertawa seraya membalik tubuh Suci agar berhadapan dengannya. Sepasang mata elang Bayu menatap lembut mata Suci.

“Selamat ulang tahun, Sayang..” Bayu berkata sangat lirih, namun Suci mampu membaca gerak bibirnya.

“Bayu, kamu kenapa nggak pernah ada kabar belakangan ini? Apa kamu sesibuk itu?” Suci bertanya dengan suara berbentur angin senja.

Alih-alih menjawab, Bayu justru menggenggam erat kedua telapak tangan kekasihnya. Dari sorot matanya, Bayu berusaha meyakinkan Suci tentang rasa cintanya yang masih sama. Tak berubah sejak awal ia merasakan jatuh cinta pada gadis di hadapannya itu. Tak beberapa lama, tangan Bayu mulai membimbing tangan Suci ke arah pintu masuk VVIP Stadion Kanjuruhan.

Suci merasa kesal karena pertanyaannya tak kunjung mendapatkan jawaban. Namun, apalah daya, ia hanya bisa menurut dan ikut melangkahkan kaki masuk ke tribun VVIP bersama kekasihnya.

Sampai di Tribun VVIP..

Sesampainya mereka berdua di tribun VVIP, tak disangka sudah banyak Aremania yang ada di dalam stadion. Mereka ada yang membawa balon udara, yang memenuhi tribun ekonomi. Tak lama, master of ceremony pertandingan, Ovan Tobing mengeluarkan suaranya menyambut Aremania.

“Sebelum menikmati pertandingan, sore ini ada sesuatu yang spesial, persembahan dari nawak kita bernama Bayu, yang katanya dipersembahkan untuk kekasihnya, Suci,” kata sang MC.

Mata Suci pun terbelalak melihat sebuah bendera raksasa dibentangkan di sisi utara, timur dan selatan. Bendera raksasa itu bertuliskan ‘Selamat Ulang tahun, Suci!’ Satu stadion sontak mengucapkan selamat ulang tahun kepada Suci melalui lagu Selamat Ulang Tahun. Sang gadis pun hanya bisa tercengang dan terpaku.

Belum berhenti sampai di situ, kapten tim Arema, Hamka Hamzah yang sedang melakoni pemanasan bersama rekan-rekan satu timnya mendekat ke arah tribun VVIP dan menyambar mic punya MC.

“Selamat ulang tahun, Suci. Semoga hubungannya langgeng sampai ke pelaminan bersama sang kekasih, Bayu!” pekik Hamka.

Selang beberapa saat, balon-balon di tribun ekonomi dilepaskan ke udara secara bersamaan oleh Aremania. Tak heran, puluhan balon itu terbang menembus senja di Stadion Kanjuruhan. Begitu indah.

Suci tak dapat menahan dirinya untuk meneteskan air mata kebahagiaan. Tubuhnya seperti ikut melayang di langit senja.

“Ini alasan aku yang belakangan ini jarang ngasih kabar. Aku cinta kamu, Sayang.” Bayu berbisik di telinga Suci.

“Bayu, aku nggak berharap kamu melakukan semua ini. Tapi, makasih ya, Sayang. Ini istimewa banget.”

Bayu mendekap Suci dalam pelukannya. Sementara itu orang-orang di sekitarnya bersorak dengan gaduh.

Suci yang tenggelam dalam pelukan Bayu tersenyum bahagia. Ia berharap, kisah yang ia lalui saat senja di Stadion Kanjuruhan ini akan jadi kisah yang indah dalam lembar hidupnya, bersama Bayu, pangeran singa di hatinya.

TAMAT

Digubah dari cerpen karya Riska Suci Rahmawati