Pablo Oliveira curhat masa sulitnya sebelum pulih dari cedera lutut dan kembali ke Arema untuk Super League 2025-2026. Total tujuh bulan dilaluinya untuk pemulihan di Brasil pasca operasi sebelum bersiap untuk putaran kedua Super League 2025-2026.
Cedera itu terjadi saat membela Arema di laga melawan Persebaya Surabaya di Liga 1 2024-2025 lalu. Setelah menjalani operasi pada Mei 2025, Pablo memutuskan menjalani pemulihan di Brasil agar lebih dekat dengan keluarga.
Setelah tujuh bulan, Pablo akhirnya kembali ke Indonesia pekan lalu. Pemain berusia 30 tahun itu senang bisa bergabung kembali dengan rekan-rekan satu timnya di Arema.
“Di Brasil itu tujuh bulan yang sulit. Pada bulan pertama setelah operasi, saya bahkan gak bisa berjalan. Itu sangat berat. Tapi setelah dua-tiga bulan, kondisi saya mulai membaik. Saya sudah bisa berjalan dan berlari. Setelah itu saya kembali ke gym. Setelah lima-enam bulan, saya merasa sangat baik karena sudah bisa melompat. Saya juga mulai bisa menendang bola, meski sedikit,” kata Pablo kepada WEAREMANIA.
Pablo Oliveira Mengaku Siap Bermain, Tapi…
Pablo mengaku siap bermain kalau Pelatih Marcos Santos membutuhkannya. Namun, Dokter Tim Arema sudah mengingatkan, waktu pemulihannya masih kurang dua bulanan lagi, sehingga perlu berlatih terpisah dari tim untuk penguatan ototnya.
“Sekarang, setelah tujuh bulan, saya sudah bisa berlari jika pelatih membutuhkannya. Saya merasa baik dan sangat bahagia. Saya bisa bertemu teman-teman, pelatih, dan semua orang di sini. Saya pikir satu bulan lagi, saya sudah bisa kembali ke lapangan untuk membantu Arema,” imbuhnya.
“Saya masih latihan ringan, hanya berlari dan sentuhan pertama dengan bola. Tapi itu sempurna buat saya yang baru pulih. Ini momen saya. Saya sudah menunggu momen ini sejak operasi. Saya memimpikan momen ini. Cedera di Brasil itu sangat berat,” jelas pemain berposisi gelandang ini.
Motivasi Pablo untuk Pulih
Pablo membeberkan motivasinya melewati masa-masa sulit dalam pemulihan cederanya. Selain keinginan segera kembali ke lapangan hijau, keluarga menjadi tumpuan utama, khususnya istri yang baru dinikahinya.
“Saya sering membicarakan ini dengan teman-teman dan keluarga. Menurut saya, yang paling berat dari cedera ini adalah waktunya, karena pemulihannya lama. Ini adalah satu pertarungan, tapi pertarungan dengan pikiran dan mental. Karena terlalu lama tanpa apa yang saya cintai. Bermain di lapangan, bersama suporter, itu cinta saya. Itu hidup saya, dan terlalu lama tanpa itu seperti perang dalam kepala. Perang dengan pikiran,” terangnya.
“Di saat-saat sulit, saya selalu mencoba mengingat momen-momen indah bersama Arema, tim, dan keluarga. Saya gak bisa memaksa tubuh untuk pulih lebih cepat. Semua ada prosesnya. Ini yang pertama dan terpanjang. Saya memang pernah menjalani operasi sebelumnya, tapi pemulihannya hanya satu-dua bulan. Setelah dua bulan saya sudah kembali ke lapangan. Ini yang paling lama dalam karier saya,” pungkasnya.
