Nasib Arema ketika Kompetisi Tiga Kali Dihentikan

Nasib Arema ketika Kompetisi Tiga Kali Dihentikan
Arema di QNB League 2015 yang dibubarkan (C) WEAREMANIA

Dihentikannya Liga 1 2020 oleh PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) bukanlah hal yang baru. Kompetisi sepak bola profesional di Indonesia juga pernah dihentikan pada musim 1997-1998 dan 2015. Lalu, bagaimana nasib Arema ketika dua kompetisi itu dihentikan?

PSSI dan PT LIB sudah menghentikan Liga 1 2020 setelah pekan ketiga (16/3/2020). Setelah sebelumnya belum ditentukan batas waktu penangguhannya, Jumat (27/3/2020) akhirnya PSSI memutuskan liga ditunda hingga 29 Mei.

Liga 1 2020 dapat digulirkan kembali dengan syarat status darurat yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia karena pandemi virus corona (covid-19) hingga 29 Mei berakhir. Jika status darurat itu tidak diperpanjang, maka Liga 1 2020 diputar lagi pada 1 Juli.

Penghentian kompetisi ini tentu mengingatkan publik sepak bola Tanah Air pada Liga Indonesia IV (1997-1998) dan QNB League 2015. Kedua kompetisi itu juga sama-sama dihentikan, tetapi benar-benar berhenti total, bukan sementara.

Kisah Perjalanan Arema di Ligina IV (1997-1998)

Arema melakoni Ligina IV (1997-1998) dengan modal kepercayaan diri yang bagus, karena pada kompetisi musim sebelumnya, mereka lolos ke babak 12 besar. Pada kompetisi musim itu, Arema dilatih oleh Gusnul Yakin.

Meski kehilangan penyerang andalan Joko Susilo yang ke Persija Jakarta, Arema mempertahankan sejumlah pemain, seperti Dwi Sasmianto, Juan Rubio, Charis Yulianto, Nanang Supriyadi, Jonathan, Mecky Tata, dan lain-lain. Masuk pemain baru seperti Didit Thomas, Khoiful Ajid. dan Abdul Khamid.

Kompetisi Ligina IV ini bisa dibilang dipaksakan, di tengah mundurnya Kansas sebagai sponsor utama yang sebenarnya sudah mengikat kontrak selama delapan tahun dengan PSSI. Ligina IV diikuti oleh 31 tim yang dibagi menjadi tiga grup, WIlayah Timur, Wilayah Tengah, dan Wilayah Barat. Dua grup berisi 10 tim, sedangan satu grup, yaitu Wilayah Tengah diisi oleh 11 tim.

Arema membuka laga perdana dengan mengimbangi tuan rumah Persebaya Surabaya sebagai juara bertahan dengan skor 0-0. Saat kompetisi resmi dihentikan, Arema berada di peringkat 6 Wilayah Barat. Dalam 14 laga, Arema menuai 18 poin hasil dari empat kemenangan, enam imbang, dan empat kekalahan.

PSSI menghentikan total Ligina IV menyusul belum pulihnya kondisi stabilitas politik dan keamanan di Indonesia pasca kerusuhan 12 Mei 1998. Keputusan itu diambil setelah pengurus PSSI yang didukung Komisariat Daerah (Komda) PSSI mencapai kesepakatan dengan para pengurus klub, pada 25 Mei di Jakarta.

Kisah Perjalanan Arema di QNB League 2015

Berbekal status sebagai Semifinalis Indonesia Super League 2014, Arema melakoni QNB League 2015 dengan semangat tinggi. Pada kompetisi musim itu, Arema masih dilatih pelatih musim sebelumnya, Suharno (almarhum).

Setelah melepas trio asing, Thierry Gathuessi, Gustavo Lopez, dan Alberto Goncalves, sebagai pengganti datanglah Fabiano Beltrame, Sengbah Kennedy dan Yao Rudy. Pemain lokal andalan seperti Kurnia Meiga, Johan Alfarizie, Hendro Siswanto, Dendi Santoso, dan Cristian Gonzales, dan lain-lain tetap bertahan.

Bersama Persebaya Surabaya, Arema sempat terganjal masalah legalitas dan sejumlah masalah lainnya, sehingga digolongkan dalam kategori D oleh Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Karenanya, kick off kompetisi sempat tertunda dua kali hingga akhirnya digelar 4 April tanpa restu BOPI.

Menjalani laga perdana di kandang sendiri, Arema hanya bermain imbang dengan Persija Jakarta dengan skor besar, 4-4. Pada kompetisi ini, Arema hanya menjalani dua pertandingan dengan poin empat, sekali menang (1-0 atas Barito Putera), sekali imbang dan menempati peringkat kelima di klasemen akhir QNB League 2015.

Kompetisi kembali dihentikan menanti hasil Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI, tetapi sehari sebelumnya Kemenpora membekukan PSSI. Kemenpora pun memerintahkan Kapolri untuk tidak memberi izin pertandingan untuk seluruh laga di bawah PSSI, sehingga QNB League 2015 dibubarkan Exco PSSI.