Selamat Jalan Bacharuddin Jusuf Habibie, Sang Pelatih Karteker

BJ Habibie
BJ Habibie

Dalam dunia sepak bola, dikenal istilah pelatih karteker. Julukan sang pelatih karteker sepertinya layak disandang oleh Bacharudin Jusuf Habibie (BJ Habibie) yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Rabu (11/9/2019) petang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata karteker (kar·te·ker) diartikan sebagai orang yang menangani jabatan (ketua, sekretaris, dan sebagainya, termasuk pelatih) untuk sementara, karena pejabatnya belum ada atau belum dipilih.

Arema sendiri pernah punya sosok karteker abadi pada diri Joko Susilo. Saat masih menjabat sebagai asisten pelatih di Arema sepanjang musim 2007-2018. Pada musim 2011-2012, pria yang akrab disapa Gethuk itu sempat didapatk menjadi pelatih karteker menggantikan Wolfgank Pikal yang mundur. Pada 2015 setelah meninggalnya pelatih kepala Suharno, Gethuk pun menjabat di posisi yang sama. Begitu pula saat pelatih Aji Santoso lengser di musim 2017, Gethuk kembali ke posisi sebagai pelatih karteker.

Presiden BJ Habibie merupakan Presiden ketiga Republik Indonesia, pasca-lengsernya Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Ketika menjabat sebagai presiden pertama di era reformasi, Habibie mewarisi sejuta masalah perekonomian Indonesia yang carut-marut oleh krisis moneter (Krismon).

Layaknya seorang pelatih karteker yang dituntut mengembalikan kejayaan sebuah klub sepak bola, BJ Habibie pun punya tugas yang sama. Pria kelahiran Parepare, 25 Juni 1936 itu dituntut mengembalikan kesejahteraan rakyat yang semakin menurun di era krisis moneter.

Masalah Pengangguran

Sejak krisis moneter melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, banyak perusahaan swasta yang mengalami kerugian besar. Tak heran jika banyak pengangguran yang menjadi korban krisis moneter yang menerpa perusahaan tempat mereka bekerja sebelumnya.

Masalah kerugian itu ditambah dengan adanya tuntutan para karyawan perusahaan swasta tersebut. Krisis moneter menuntut para pekerja swasta menambah penghasilannya agar bisa membeli barang-barang kebutuhan yang harganya kian melambung di pasaran. Situasi ini memaksa mereka mengajukan kenaikan gaji yang sayangnya tak dapat dipenuhi.

Alih-alih mengabulkan tuntutan itu, perusahaan-perusahaan swasta yang sedang merugi tersebut malah ramai-ramai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) untuk mengurangi beban perusahaan. Akhirnya, banyaknya korban PHK ini mau tak mau menjadi tanggungan pemerintahan Presiden BJ Habibie.

Masalah Persediaan Sembako

Masalah lain datang dari persediaan sembilan bahan pokok (sembako) di pasaran yang menipis sejak pertengahan tahun 1997. Masalah ini pun membuat kondisi perekonomian Indonesia kala itu semakin memburuk.

Banyaknya permintaan barang dari konsumen yang tak bisa terpenuhi karena persediaan sembako yang minim membuat harga barang melambung tinggi tak terkendali. Karena tak mampu menjangkau kebutuhan pokok, kemiskinan, kelaparan dan kekurangan makanan bergizi kian meningkat di kalangan rakyat. Pekerjaan rumah besar pula bagi pemerintahan BJ Habibie.

Masalah Nilai Tukar Rupiah

Pada awal krisis moneter melanda pada pertengahan tahun 1997, nilai tukar rupiah sempat terjun bebas dari 2.000 rupiah per dolar Amerika Serikat menjadi 12 ribu per dolar Amerika Serikat. Mau tak mau, pemerintahan BJ Habibie harus memulihkan kondisi ini.

Kondisi itu diperparah dengan jatuh temponya utang luar negeri, sehingga membengkak akibat depresiasi (penyusutan) rupiah. Belum lagi para perbankan swasta yang mengalami kesulitan likuiditas, inflasi yang meroket di atas 50%, dan lain-lain.

Langkah Strategis

Jika seorang pelatih karteker mencoba memperbaiki tim yang diasuhnya dengan cara mengubah program latihan, menambah pemain baru, atau mencari solusi lain dengan tujuan membuat timnya lebih baik, sama halnya dengan BJ Habibie. Sejumlah langkah strategis diambilnya begitu naik jabatan sebagai presiden pada 21 Mei 1998.

Sehari setelah dilantik (22 Mei 1998), sang pelatih karteker langsung membentuk kabinet baru yang dinamakannya Kabinet Reformasi Pembangunan. Kabinet itu terdiri atas 16 orang menteri, yang dipercayanya mampu membantu memulihkan situasi dan kondisi Republik Indonesia saat itu.

Kemudian, pemerintahan BJ Habibie merekapitulasi perbankan dan menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian. Dalam rangka mencapai tujuan untuk menuju dan memelihara kestabilan nilai tukar rupiah, BI didukung oleh tiga pilar penting, yaitu menetapkan dan melaksanakan kebijaksanaan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, dan mengatur dan mengawasi Bank.

Selain itu, pemerintahan BJ Habibie juga melikuidasi beberapa bank bermasalah. Langkah lain yang tak kalah pentingnya adalah mendapatkan kembali dukungan dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Upaya ini dibarengi dengan mengimplementasikan reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.

Selamat Jalan Bacharuddin Jusuf Habibie

Kini, sang pelatih karteker Republik Indonesia telah berpulang. Jasa-jasanya dalam mengembalikan situasi dan kondisi negara ini pasca-Orde Baru akan selalu dikenang. Memang, waktu di tangannya, Indonesia belum bisa menjadi juara, namun sentuhan tangannya telah menyelamatkan negara ini dari semakin terpuruk ke jurang degradasi. Selamat Jalan Bacharuddin Jusuf Habibie.