Gaye Alassane, Pemain Asing Pertama yang Diseleksi Arema

Gaye Alassane, Pemain Asing Pertama yang Diseleksi Arema
Kliping Tabloid Kompetisi (C) VAMOS

Arema pertama kali menyeleksi pemain asing jelang Liga Indonesia I (Ligina 1994-1995). Pemain asing itu adalah Gaye Alassane, penyerang asal Mali.

Gaye didatangkan Arema pada bulan November 1994 yang tengah bersiap menghadapi kompetisi sebulan lagi. Saat itu skuad Singo Edan kembali dibesut oleh pelatih Gusnul Yakin, dan didanai oleh HM Mislan, yang juga pemilik Gelora Dewata.

Reputasi Gaye di Liga Singapura bersama klub Tiong Bharu yang dibawanya menjadi juara menarik perhatian manajemen Arema. Namun, sebelum dikontrak, Gaye harus menjalani proses seleksi.

Untuk dapat membuktikan kualitasnya, Gaye dilihat dalam sesi latihan dan sejumlah laga uji coba yang dilakoni Arema. Hal itu harus dilakukan untuk lebih meyakinkan Gusnul Yakin dan HM Mislan sebelum menyodorinya kontrak.

Kisah Gaye Alassane Sebulan Jalani Seleksi di Arema

Tercatat, Gaye menjalani masa seleksi sekitar satu bulan. Sayangnya, dua pekan jelang Ligina 1994-1995 digulirkan, si penyerang asing itu malah terdepak dari skuad Singo Edan.

Gaye batal mendapatkan kontrak sebagai pemain Arema tak lepas dari dua alasan. Yang utama dan dikeluhkan HM Mislan adalah kualitasnya yang di luar ekspektasi ketika dimainkan dalam sejumlah laga uji coba Arema.

“Saya tidak bisa menahan-nahan lagi. Apalagi Liga Dunhill tinggal dua pekan lagi. Saya sudah putuskan untuk memulangkan Gaye. Semakin cepat semakin baik,” ungkap HM Mislan saat itu kepada Tabloid Kompetisi yang terbit 11 November 1994.

Menurutnya, tak kurang kesempatan sudah diberikan tim pelatih untuk Gaye agar membuktikan kemampuannya layak dikontrak Arema. Namun, sebagai penyerang, Gusnul menilai Gaye masih kurang memuaskan, seperti yang dilihatnya di laga uji coba melawan PSIM di Yogyakarta (0-0) dan melawan Pelita Jaya di Semarang (0-1).

“Gaye hanya tampil selama 20 menit di Yogyakarta. Itu pun sangat buruk, sehingga segera saya ganti. Sedangkan di Semarang dia tidak diturunkan sama sekali. Kemampuannya masih jauh di bawah pemain Arema lainnya,” imbuhnya.

Alasan Lain Terdepaknya Gaye dari Seleksi

Ada alasan lain yang membuat Gaye gagal mengenakan jersey Arema di Ligina 1994-1995. Keputusan pencoretannya yang membuat Arema berlaga tanpa satu pun pemain asing selama semusim, tak lepas dari kecemburuan sosial yang terjadi di tim Arema kala itu.

Mayoritas pemain lokal Arema saat itu tak menginginkan Gaye lantaran nilai kontraknya lebih besar dari mereka. Konon, di masa itu pemain asing mendapatkan gaji Rp3 juta per bulan, sedangkan pemain lokal paling banyak Rp1 juta.

“Pak Tabrin (agen Gaye sekaligus mantan pengurus Liga) akhirnya dapat memahami sepenuhnya permasalahan ini. Yang penting tidak ada satupun pihak yang merasa tersinggung. Toh, dipulangkannya Gaye ini juga untuk kebaikan bersama. Lebih-lebih untuk menghapus kecemburuan sosial di Arema,” tandas HM Mislan.