Buku Ujung Timur Jawa 1763-1813: Perebutan Hegemoni Blambangan (Java’s Last Frontier: The Struggle for the Hegemony of Blambangan 1763-1813) menceritakan jatuhnya Malang dan Lumajang pada kompeni Belanda. Dalam buku tersebut, diceritakan pula tertangkapnya keturunan terakhir Untung Surapati di Malang.
Seperti diketahui, Untung Surapati yang terlahir dengan nama Surawiroaji di Bali, tahun 1660 merupakan seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi. Kisahnya menjadi legendaris karena mengisahkan seorang anak rakyat jelata dan budak VOC yang menjadi seorang bangsawan dan Tumenggung (Bupati) Pasuruan. Ia meninggal dunia di Bangil, Jawa Timur, 5 Desember 1706 pada usia 46 tahun.
Dalam catatan sejarah, keluarga Surapati dan Singasari telah memainkan peran penting yang mewarnai seluruh konflik yang terjadi hampir selama satu abad di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka teguh dalam menghidupkan semangat perlawanan terhadap penjajah ketimbang keluarga elit Jawa lainnya. Konon, pemerintah Belanda pun sampai harus menggunakan cara yang lebih opresif dalam menghadapi kedua keluarga ini.
Ann Kumar, seorang peneliti, menegaskan bahwa ekspedisi militer Belanda di ujung timur Pulau Jawa bertujuan untuk melenyapkan keturunan Surapati sekaligus menyingkirkan mereka dari politik Jawa selama-lamanya. Meskipun Malang dan Lumajang telah jatuh ke tangan Belanda, keturunan Surapati terus diburu. Ada beberapa laporan menyebutkan bahwa setelah jatuhnya kedua kabupaten tersebut, sisa-sisa keluarga Surapati lari dan bersembunyi di wilayah Sultan. Pemerintah Belanda di Semarang menanggapi informasi ini dengan meminta Sultan mengambil langkah-langkah untuk memburu mereka.
Dua tahun berselang setelah jatuhnya Malang, prajurit Sultan berhasil menawan 21 orang anggota keluarga Malang dan Lumajang. Mereka diduga merupakan kelompok terakhir keluarga Surapati yang berhasil ditangkap Belanda. Namun demikian, mereka meyakini ada lebih banyak lagi keluarga dan keturunan Surapati yang masih bersembunyi di berbagai tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Keturunan Surapati yang ditangkap di wilayah Sultan pada 1770 adalah Bapak Jibus dari Malang (paman Malayakusuma), Mbok Ratmi (istri dari Bapak Jibus, putri mantan Bupati Malang, Raden Wiranagara), Bagus Mir dari Malang (paman Malayakusuma), Mbok Kamsa (istri Bagus Mir, putri mantan Bupati Malang, Raden Wiranagara), Sewa dari Lumajang (cucu Surapati, dan putra Kartayuda, mantan bupati kedua Lumajang), Saria dari Pasuruan (istri Sewa), Guluk dari Lumajang (putra mantan bupati pertama Lumajang, Kartanagara), Mertasuta dari Lumajang (putra Mertawongsa, seorang anak angkat dari Suradirja, cucu Surapati), dan Citrayuda dari Lumajang (seorang yang telah menyembunyikan dua cucu Surapati).





