Prasasti Ranu Kumbolo yang bertuliskan ‘Ling deva pu Kameswara tirthayatra’ menjadi saksi bisu perjalananan spritual Kameswara, seorang rohaniawan dalam mencapai surga para dewa.
Kata deva pu Kameswara pada Prasasti Ranu Kumbolo merujuk pada raja Kediri, Kameswara oleh mayoritas sejarawan. Namun, hal ini belum tentu tepat, sebab pada saat melakukan perjalanan tersebut Kameswara sudah lengser dari tahta kerajaan Kediri. Tahun yang kita maksud yaitu 1182-1188 Masehi.
Sehingga deva pu pada Prasasti Ranu Kumbolo berarti sebagai rohaniawan. Sebab, partikel deva pu tidak biasa pergunakan untuk raja yang biasanya menggunakan kata sri atau gelar raja lainnya. Juga dari huruf bergaya Jawa Tengah yang ada pada masa Majapahit. Masih butuh melakukan penelusuran lebih dalam untuk mengetahui secara pasti siapa Kameswara yang mereka maksud.
Sedangkan untuk kata tirthayatra pada Prasasti Ranu Kumbolo berasal dari kata tirtha dan yatra.
Titha merupakan air sakral, berbeda dengan banyu yang berarti air biasa. Yatra berarti perjalanan spiritual. Sehingga tirthayatra memiliki artian perjalanan spiritual menuju air yang sakral. Air yang sakral ini merujuk pada ranu Kumbolo.
Ranu Kumbolo memang merupakan danau yang memiliki air suci karena berada pada gunung yang juga suci. Ranu atau yang biasa orang menyebutnya danau ini berarti cekungan yang terisi air. Maksud dari air suci adalah semua air yang ada dalam ranu berketinggian 2400 meter pada permukaan laut ini. Itulah yang membedakan air suci ini dengan tempat mandi para dewa ini dengan telaga air lainnya.
Ranu yang menjadi riwayat perjalanan para pendaki gunung tertinggi di pulau Jawa ini menjadi tempat singgah maupun ibadah dari ‘ling deva pu Kameswara tirthayatra’. Sebab, perjalanan spiritual disini lebih diartikan perjalanan menuju gunung Semeru. Dimana puncaknya, Mahameru merupakan surga tempat tinggal para dewa. Konon, puncak ini kesuciannya sama dengan Himalaya.
Baca juga: BREAKING NEWS Gunung Semeru Meletus





