Lembu Peteng, sebuah situs purbakala yang terdapat pada Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Asal-usul tempat ini masih menjadi sebuah misteri dengan cerita berbagai versi. Jika beberapa masyarakat percaya namanya berasal dari kata Lumbu dan Lembu, ternyata situs ini pernah disebut dalam Kitab Negarakertagama dan Pararaton.
Lembu Peteng, Tempat Pejabat Kerajaan
Situs Lembu Peteng ini diyakini sebagai kawasan yang ditinggali seorang pejabat pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit. Beberapa benda yang menguatkan dugaan ini adalah keberadaan pohon beringin, lumpang batu, dan brak. Selain itu, tempat yang berada di lahan pertanian juga menjadi sebuah bukti kuat.
Pohon beringin merupakan sebuah simbol kebesaran yang ada di sebuah rumah pejabat kerajaan. Sedangkan lumpang batu adalah tempat yang biasa digunakan untuk pengolahan hasil bumi seperti padi dan jagung. Brak alias Joglo pada situs Lembu Peteng adalah tempat yang digunakan untuk melakukan kegiatan besar seperti barikan atau tandakan. Hamparan sawah yang ada di sekitar situs menjadi bukti kesejahteraan di masa lampau yang diberikan pada pembesar kerajaan.
Dalam Kitab Negarakertagama
Mengutip dari Kitab Negarakertagama pupuh 88 bagian ke 2 dan 3 disebutkan,
“Berkatalah Sri nata Wengker di hadapan para pembesar dan wadana: ‘Wahai, tunjukkan cinta serta setya baktimu kepada baginda raja, cintailah rakyat bawahanmu dan berusahalah memajukan dusunmu, jembatan, jalan raya, beringin, bangunan dan candi supaya dibina. Terutama dataran tinggi dan sawah, agar tetap subur, peliharalah,”
Sedangkan dalam Kitab Negarakertagama pupuh 91 bagian 1 disebutkan,
“Pembesar daerah ingin membadut dengan para lurah, Diikuti lagu, sambil bertandak memilih pasangan, Solah tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan,”.
Dalam Kitab Pararaton
Jika menilik dalam Kitab Pararaton, Lembu Peteng adalah seorang anak adri Arya Wiraraja, Adipati Sumenep. Beliau adalah orang yang banyak berjasa dlam awal pendirian Kerajaan Majapahit. Bersama Gajahmada, ia turut berjuang menumpas pemberontakan di berbagai wilayah Kerajaan Majapahit. Atas jasa-jasanya, itu ia pun diangkat menjadi Tumenggung.
Dalam Kitab Pararaton bagian 5 disebutkan,
“(anak Wiraraja yang bernama Nambi, Peteng (yang dimaksud adalah Lembu Peteng) dan Wirot (yang dimaksud adalah Wirot Made), semua prajurit baik, melawan tentara Daha di bagian utara itu, dikejar diburu oleh Raden Wijaya,”.
Sedangkan dalam Kitab Pararaton bagian 9 disebutkan,
“Setelah Kembar kembali dari Sadeng, lalu menjadi bekel araman, Gajah Mada menjadi Angabehi, Jaran Baya, Jalu, Demang Bucang, Gagak Nunge, Jenar dan Arya Rahu mendapat pangkat, Lembu Peteng menjadi Tumenggung,”.
Baca juga: Nama Desa Ngijo dan Legenda Kebo Ijo
Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.





