Di Jalan Merdeka Timur, tepatnya sebelah timur Alun-alun Kota Malang pernah berdiri gedung Bioskop Rex (Rex Bioscoop). Tidak jelas kapan berdirinya, tapi kehadirannya tak lama setelah berdirinya tiga gedung bioskop lainnya di Kota Malang. Ketiga bioskop itu berdiri berderet di Jalan Agus Salim atau dulu disebut Jalan Kabupaten sejak tahun 1930-an.
Bioskop Rex ini dikenal sebagai jaringan bioskop yang ada pasa masa penjajahan Belanda. Tak heran jika di kota-kota lain juga ada bioskop dengan nama yang sama, seperti Rex Jakarta, Surabaya, Bandung, Jember, Palembang, dan Medan. Kehadiran bioskop ini tentu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Belanda ataupun priayi di Kota Malang.
Gedung Bioskop Rex ini cukup unik, karena memiliki ciri khas tersendiri. Di sejumlah kota, termasuk Rex yang ada di Malang, bentuk bangunannya menggunakan gaya Art Deco. Gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II ini memang mengandung nilai seni tingga kala itu.
Film yang Diputar Bioskop Rex
Film yang diputar di Bioskop Rex tak jauh berbeda dengan film yang diputar di bioskop-bioskop lainnya di Kota Malang. Sebelum ada film yang seperti sekarang ini, dulu bioskop menggunakan film bisu yang hanya berupa gambar bergerak. Untuk pelengkap suaranya biasanya dibuat secara manual yang dihadirkan melalui aksi panggung orkestra yang mengiringi sesuai adegan film yang ditayangkan. Ada pemain piano, biola ataupun suara lain yang terlibat.
Bioskop Rex bisa dibilang merupakan bioskop kelas satu di Kota Malang. Makanya, rol film-film terbaru kerap diputar lebih dulu di sini ketimbang di bioskop lainnya. Film yang cukup tenar di bioskop Kota Malang dulu antara lain Fantomas, Zigomar, Tom Mix, Edi Polo, dan lain-lain. Ada pula film-film bergenre komedi yang dibintangi oleh Charlie Chaplin, Max Linder, Arsene Lupin, dan lain sebagainya.
Jadi Korban Bumi Hangus
Pada saat Agresi Militer Belanda, Juli 1947, Bioskop Rex termasuk ribuan bangunan yang dibakar oleh pejuang Indonesia. Tujuannya agar keberadaannya tidak dimanfaatkan oleh Belanda yang datang kembali ke Malang setelah Republik Indonesia merdeka. Gedung itu dibangun kembali pada tahun 1950-an ketika situasi keamanan mulai kondusif. Gedung baru ini dibangun dengan gaya dan bentuk yang sama. Namun, di tahun itu pergeseran kesukaan film juga mulai berubah dari film barat ke film lokal Indonesia. Terlebih, di tahun 1950-an hingga 1960-an dunia perfilman Indonesia sudah mulai menggeliat.
Ada Indonesiasi nama atau perubahan nama asing di gedung menjadi nama Indonesia pada tahun 1970-an. Nama bioskop ini pun berubah menjadi Bioskop Ria. Di masa itu keberadaan bioskop di seluruh Indonesia mengalami kemajuan yang cukup pesat. Terbukti, di Kota Malang juga bermunculan bioskop-bioskop kelas menengah ke bawah.
Sayang, performa Bioskop Ria tak bisa dipertahankan pada tahun 1990-an. Seiring berjalannya waktu, tanpa diketahui sebabnya bangunan bioskop sudah dibongkar dan kemudian digantikan bangunan baru yang lebih modern. Gedung itu kemudian dipakai untuk bank. Tercatat, sejumlah bank, mulai dari Bank Danamon, Lippo, hingga sekarang CIMB Niaga menempati gedung tersebut.






Discussion about this post