Desa Kebobang, salah satu desa dalam Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Penamaan daerah yang tidak biasa ini ternyata menyimpan sebuah cerita sejarah yang unik. Tidak banyak yang tahu jika nama Kebobang lekat dengan sebuah hewan yang bisa disebut keramat. Apa itu?
Desa Kebobang sendiri berada diantara Desa Wonosari di sebelah utara, Desa Ngajum di sebelah timur, Desa Plaosan di sebelah selatan, dan Desa Sumber Tempur di sebelah barat. Daerah ini berada pada ketinggian 500-700 meter di atas permukaan laut.
Sejarah Nama Kebobang
Sejarah Kebobang lekat dengan cerita perjalanan Pangeran Diponegoro dan prajurit-prajuritnya. Alkisah pada jaman dahulu, Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan penjajah Belanda. Peperangan besar-besaran pun tak terelakkan.Sebuah kelompok prajurit Diponegoro memisahkan diri dan melakukan perjalanan ke arah timur. Kelompok yang berjumlah sekitar 40 orang ini dipimpin langsung oleh Kyai Zakaria. Mereka melewati jalur pantai selatan, dan singgah pertama kalinya di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar.
Dalam perjalanan ke arah timur inilah, kemudian mereka sampai dan singgah pada daerah Wonosari yang dulu masih berupa hutan belantara. Kelompok pengikut Pangeran Diponegoro itu pun lantas melakukan penebangan pohon atau biasa disebut babat alas.
Ketika melakukan pembabatan hutan inilah, tiba-tiba muncul seekor hewan yang tidak biasa. Meeka menemukan seekor kerbau (dalam Bahasa Jawa disebut Kebo). Uniknya, kerbau itu berwarna merah (dalam Bahasa Jawa disebut Abang). Kemudian, kelompok pembabat alas wilayah itu pun memberikan nama Kebobang, yakni singkatan dari bahasa Jawa Kebo Abang alias Kerbau Merah. Nama ini kemudian lebih mudah disebut sebagai Kebobang.
Beberapa diantaraprajurit-prajutit ini kemudian menetap dan mendirikan pemukiman, termasuk di wilayah Desa Kebobang. Desa ini terus berkembang hingga kini tediri dari empat dusun, yakni Dusun Kebobang, Dusun Tumpangrejo, Dusun Lopawon, dan Dusun Bumirejo. Masing-masing nama dusun tersebut diambil dari tokoh yang melakukan babat alas.
Di Dusun Kebobang ada Mbah Singo Suto dan Mbah Iro Ndaru, di Dusun Tumpangrejo ada Mbah Karsinah dan Eyang Singo Drono, di Dusun Lopawon ada Mbah Sentonorejo, dan di Dusun Bumirejo ada Mbah Tugudrono. Mereka semua adalah prajurit-prajurit Pangeran Diponegoro yang hijrah dari tanah Jogjakarta.
Mau tau sejarah-sejarah Kota Malang? Baca: Romantisme di Balik Sejarah Nama Kasembon





