Rokok Faroka adalah rokok yang cukup populer pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Rokok putih tersebut terbuat dari pabrik yang canggih pada masanya, yakni Pabrik Rokok Faroka.
Pabrik rokok Faroka berdiri pada lahan dalam Kawasan Industri zaman Belanda seluas 32.000 meter persegi. Kini, kawasan ini bernama Jl Peltu Sujono (daerah dekat Comboran). Perusahaan Faroka bernama NV (Naamloze Vennootschap) Faroka. NV adalah nama Belanda untuk PT pada zaman sekarang. NV menjalankan usaha dengan modal berupa lembaran saham. Saat itu, pemilik saham terbesar adalah pengusaha eropa karena Faroka berdiri atas jasa perusahaan Belgia.
Mengutip dari buku Malang Tempo Doeloe karya Dukut Widodo, hal yang paling menonjol saat memasuki lokasi pabrik adalah gudang tembakaunya yang sangat besar. Gudang itu menggunakan rancangan khusus sedemikian rupa dengan menggunakan plafon eternit ganda, sehingga tempat itu tetap sejuk dan mutu dari tembakau yang tersimpan tetap terjaga.
Melange-Zaal
Dalam ruangan bernama dengan melange-zaal, terdapat deretan koleksi tembakau berbagai jenis. Satu melange-zaal berfungsi untuk menyimpan satu jenis tembakau untuk satu merk rokok saja. Dalam melange-zaal juga terdapat monsterkamer, atau kamar master, yaitu sebuah kamar yang menyimpan contoh tembakau atau master dari tembakau yang bakal masuk gudang.
Selain menggunakan tembakau asli Indonesia, Pabrik rokok Faroka juga mengimpor jenis tembakau dari Amerika, Tiongkok, hingga Makedonia dengan rasa yang tentu berbeda-beda.

Dalam melange-zaal terdapat pegawai yang tugasnya mencampur adonan tembakau. Jabatan pegawai ini adalah melangeur, sebuah jabatan yang sangat bergengsi bagi orang-orang pilihan saja.
Bagian Lain Pabrik Faroka
Pada afdeeling-afdeeling (bagian-bagian) lain pabrik Faroka, kondisinya sangat bersih dan tertata rapi. Seluruh pegawainya memakai seragam berwarna putih bersih. Jubin (lantai) pabrikpun nampak bersih sekali, sehingga dapat Anda bayangkan ketika mendudukinya, Anda tidak perlu khawatir akan mengotori pakaian.

“Kaloe orang meliat laen-laen afdeeling dari ini fabriek, orang nanti menampak karesikan jang soesah sekali ditjari bandingannja. Semoea penggawe jang moesti bikin sigaret memakae pakean jang bersamaan satu pada lain dan warnanja poetih. Ini ada perloe sekali, kapan inget sigaret poen masoek itoengan barang makanan,” demikian bunyi sebuah laporan kunjungan NV Faroka yang dibuat pada tahun 1939.
Dari sisi produktivitas, tiap jam pabrik rokok Faroka memproduksi 60.000 batang rokok dengan menggunakan peralatan mesin yang modern. Semua pengerjaannya menggunakan mesin, termasuk pemasangan banderol. Sementara tenaga manusia hanya untuk menata saja.

“Hingga bole dibilang dari tembako sampe kertas sigaretnja tida kena kepegang tangan. Semoeanja dikerdjakan dengen masin,” lanjut laporan itu.
Kecanggihan pabrik rokok Faroka tentu saja berbeda dengan Pabrik rokok Bentoel yang berdiri setelahnya. Pabrik Bentoel (hingga sekarang) pembuatan rokoknya melalui tenaga manual buruh pabrik. Dengan begitu, Pabrik Faroka terbilang menjadi pabrik yang canggih dan mapan pada zamannya. Tak heran demikian, karena memang pendirinya adalah perusahaan NV Tobacofina dari Belgia.
Jatuh-bangun Faroka
Tanggal 7 Maret 1942 saat Jepang menduduki Malang, seluruh bangsa Eropa kecuali Jerman harus masuk dalam kamp interniran atau tahanan Jepang. Para top manajemen dari pabrik rokok Faroka ini juga mengalami nasib yang sama. Pabrik ini pun akhirnya berhenti beberapa saat sampai Jepang mengaktifkan kembali.
Tahun 1945 saat Jepang kalah melawan Sekutu. Faroka diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, dari hasil negoisasinya dengan Belanda kemudian pabrik ini kemudian dikelola kembali oleh NV Tobacofina pada tahun 1949.
Selain Pabrik Rokok Faroka, inilah daftar pabrik rokok Malang lainnya. Baca: Daftar Alamat Perusahaan dan Pabrik Rokok di Malang Raya


