Jika membicarakan perang laut di Selat Bali pada tahun 1946, semua pasti mengenali sosok I Gusti Ngurah Rai yang namanya diabadikan menjadi nama bandara di Bali. Namun, di antara mereka yang gugur saat itu ada sosok Kapten Laut Albert Warokka yang merupakan pelaut kelahiran Malang, 15 Juni 1925.
Albert adalah salah satu pahlawan yang gugur dalam perang laut yang berlangsung pada Maret-April 1946 di selat Bali. Saat itu, armada laut Republik Indonesia memang berpusat di Malang.
Gelar Kapten Laut didapat Albert setelah menempuh pendidikan Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang. Setelah itu, putra dari Yohanes Warokka dan Armini ini bergabung dengan Tri laut X Banyuwangi pada masa kemerdekaan tahun 1946.
Kisah Pertempuran Kapten Laut Albert Warokka
Kapten Laut Albert Warokka dan pasukannya berangkat ke Bali pada 3 April 1946 dengan menggunakan tiga perahu nelayan. Mereka menamai ketiga perahu itu Jukung, Mayang, dan Telapak.
Dalam operasi di Selat Bali itu, sebenarnya ada tiga tim pasukan. Selain Albert, ada I Gusti Ngurah Rai dan Kapten Markadi di perahu terpisah. Masing-masing pasukan di perahu tadi mengarah ke laut tujuan yang berbeda. Peran Albert kala itu adalah memimpin Operasi Lintas Laut Banyuwangi-Bali di pantai utara Pulau Bali.
Sebelum melakukan operasi, mereka telah menyusun persiapan yang matang, termasuk lokasi pendaratan yang aman. Kapten Markadi mengirimkan empat tim intelejen untuk mengumpulkan informasi. Mereka mencari tahu informasi mengenai kondisi geografis, kondisi sosial politik masyarakatnya, lokasi yang aman untuk pendaratan, kekuatan masyarakat, dan rute patroli pasukan Belanda.
Untuk melancarkan aksi mereka, Kapten Markadi mengirimkan beberapa anak buahnya ke Pulau Bali pada H-1. Mereka mendapat tugas untuk memandu pendaratan pasukannya. Pemanduan lokasi pendaratan yang aman itu dilakukan dengan memberikan tanda berupa api yang berbentuk segitiga.
Penyerangan di Pulau Bali
Kapten Laut Albert Warokka dan pasukannya mendarat di Pantai Celukanbawang, Bali. Saat sampai di daratan, mereka menghadang pasukan Belanda yang sedang berpatroli di jalan raya. Saat itu, mereka terlibat pertempuran melawan pasukan Belanda untuk merebut wilayah Seririt dibantu para pemuda asli Bali.
Merasa kekurangan senjata, maka mereka memutuskan pergi ke Banyuwangi untuk mengambil senjata terlebih dahulu. Dalam perjalanan menuju Banyuwangi inilah, perahu yang ditumpangi Albert berpapasan dengan perahu patroli Belanda. Maka terjadilah pertempuran di sana.
Dua perahu yang ditumpangi Albert Warokka dan 15 orang pasukannya terseret arus dan tenggelam. Sang Kapten Laut tidak selamat dalam tragedi itu. Dari pasukannya, tersisa dua orang yang diketahui sempat menyelamatkan diri, yakni I Gede Made Wijono dan Kamdi.
Setelah kejadian tersebut, pasukan I Gusti Ngurah Rai dan Makardi juga berpapasan dengan dua kapal angkatan laut Belanda berjenis LCM (Landing Craft Mechanized) yang berpatroli. Terjadi pertempuran yang memaksa pasukan RI dalam keadaan terjepit.
Ada inisiatif melemparkan dua buah granat ke arah kapal LCM Belanda. Geranat itu membuat satu kapal Belanda karam dan hanya satu kapal yang tetap melanjutkan perjalanan ke Gilimanuk meskipun dalam keadaan terbakar dek dan lambungnya.
Pertempuran tersebut, disebut-sebut sebagai pertempuran laut pertama setelah kemerdekaan yang mampu dimenangkan angkatan perang Indonesia.
Atas jasanya, nama Kapten Laut Albert Warokka diabadikan sebagai nama gedung dan jalan. Jalan Albert Waroka bisa ditemui di Banyuwangi, tepatnya di belakang gedung DPRD. Di Malang juga ada Jalan Albert Warokka, yakni di dekat pintu masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Kabupaten Malang.
Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.





