Orde Baru adalah salah satu masa paling terkenang di Indonesia. Di era yang dipimpin Presiden Soeharto ini, terdapat satu nama yang dikenal dengan julukan si Raja Tega. Ialah Laksamana Sudomo, pria kelahiran 20 September 1926 silam. Siapa sangka, ternyata tokoh satu ini adalah seorang asli Malang.
Perjalanan karirnya di masa Orde Baru dimulai setelah Pertempuran Laut Aru, Sudomo kemudian dikirim ke Makassar untuk membantu Panglima Mandala, Mayor Jenderal Soeharto. Kerjasama Sudomo-Soeharto inilah yang dipercaya menjadi awal hubungan baik diantara keduanya.
Duet Soeharto – Sudomo
Selepas lengsernya Presiden Soekarno usai Gerakan 30 September 1965, Soeharto mengambil kekuasaannya secara sistematis. Langkah ini tentu diiringi dengan bertugasnya Sudomo. Jika Soeharto dan anak buahnya melenyapkan orang-orang yang dicurigai sebagai anggota maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Angkatan Darat, maka Sudomo memainkan peran itu di Angkatan Laut.
Kala itu, Sudomo menduduki dua jabatan sekaligus, sebagai Panglima Angkatan Laut Kawasan Maritim Tengah dan Pembantu Menteri Perhubungan Laut. Tugasnya membantu Kepala Staf Angkatan Laut yang saat itu dijabat Jenderal Soemitro, untuk “membersihkan” AL dari orang-orang berbau PKI. Menurutnya, semua yang terindikasi PKI harus disingkirkan, sebagaimana perintah Soeharto. Pada tahun 1969, Sudomo akhirnya diangkat sebagai Kepala Staf TNI AL, menggantikan Soemitro.
Unjuk Rasa Mahasiswa
Sebelum lengser pada tahun 1998, kekuasaan Presiden Soeharto sebenarnya sudah coba digulingkan para mahasiswa pada 18 Maret 1978. Jelang Sidang Umum MPR, suasana ibukota memanas karena aksi mahasiswa dari berbagai daerah yang bergerak menuju Istana Negara di Jakarta Pusat. Namun, tujuan mereka mendesak Soeharto untuk tidak lagi melanjutkan kekuasaannya sebagai presiden berakhir dengan kekecewaan. Sebab Soeharto tidak sedang berada di tempat.
Selang dua hari, barulah turun tanggapan dari perwakilan istana, bukan langsung dari Soeharto, melainkan diamanatkan melalui Sudomo. Soeharto yang saat itu juga menjabat sebagai Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), menunjuk Laksamana Sudomo selaku Kepala Staf Kopkamtib untuk melaksanakan tugas harian.
Gebrakan pun dilancarkan Sudomo merespon aksi para mahasiswa. Pertama, ia memberangus sejumlah media massa nasional dengan tudingan membesar-besarkan aksi mahasiswa lewat pemberitaan. Sejumlah koran yang dihentikan paksa penerbitannya harus memenuhi syarat-syarat khusus untuk bisa terbit kembali.
Langkah represif selanjutnya, Sudomo mengerahkan tentara untuk menduduki beberapa universitas yang mahasiswanya terlibat aksi. Ada 143 orang mahasiswa yang dianggap sebagai biang kegaduhan ditahan. Lalu, mereka diseret ke meja hijau, dan selanjutnya dijebloskan ke penjara.
Karena “jasanya” mengamankan posisi Presiden Soeharto, bahkan hingga 20 tahun ke depan, tak sampai sebulan setelah tindakannya merespon gerakan mahasiswa, Sudomo benar-benar menjadi orang nomor satu di Kopkamtib. Ia tak lagi hanya menjadi kepala staf, melainkan resmi ditunjuk sebagai Panglima Kopkamtib (Pangkobkamtib) sejak 17 April 1978.
Sudomo bisa dibilang sebagai satu-satunya perwira tinggi Angkatan Laut yang menduduki posisi strategis sepanjang Orde Baru berkuasa. Setelah menjadi petinggi Kopkamtib, Sudomo diangkat sebagai Wakil Panglima ABRI, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), hingga Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Begitu pula ketika Orde Baru berakhir pada tahun 1998, praktis karier politiknya berakhir seketika.
Pada 18 April 2012, Laksamana Sudomo menghembuskan napas terakhirnya, pada usia 85 tahun. Si Raja Tega pun akhirnya menutup mata dalam kedamaian.
Baca juga: Sejarah Terbentuknya TRIP, Tentara Republik Indonesia Pelajar



