BCS Sleman Batal ke Malang, Begini Penjelasan Panpel Arema

BCS Sleman Batal ke Malang, Begini Penjelasan Panpel Arema

Brigata Curva Sud alias BCS Sleman batal ke Malang untuk mendukung timnya dalam laga Arema FC vs PS Sleman di pekan ke-20 Liga 1 2019, Selasa (20/9/2019) sore. Ketua Panpel Arema, Abdul Haris menjelaskan kronologi cerita sebenarnya.

Menurutnya, sesuai dengan regulasi, pihak Panpel Arema memberikan kuota tiket lima persen dari kapasitas stadion untuk suporter tim tamu. Namun, ada rekomendasi dari pihak kepolisian, dalam hal ini Polres Malang, agar suporter tim tamu tidak hadir di venue pertandingan, Stadion Kanjuruhan Malang demi kondusifitas keamanan.

Namun demikian, pada H-1 Haris sudah terlanjur menerima permintaan pihak Panpel PS Sleman agar BCS Sleman bisa hadir di Malang. Pria berkacamata itu pun langsung meminta kepastian pada malam harinya berapa jumlah suporter Sleman yang akan hadir di Stadion Kanjuruhan.

“Saya juga meminta pihak PS Sleman segera transfer uang tiketnya, dengan harga tiket yang sama dengan ketika Aremania datang ke Sleman, 85 ribu rupiah. Saya tunggu sampai besok paginya (hari H) tidak ada kabar lagi, kami pun kemudian mendapatkan surat rekomendasi dari Polres Mlang agar tidak memberikan kuota kepada suporter BCS,” kata Haris.

Kecolongan Delapan Suporter BCS Sleman

Meski sudah diimbau agar tidak datang oleh pihak Polres Malang, ternyata Panpel Arema masih kecolongan suporter tim tamu. Haris mencatat ada delapan orang yang teridentifikasi sebagai BCS Sleman yang diamankan.

Para ‘suporter penyusup’ itu ada yang diamankan di luar stadion, ada pula yang diamankan dari tribun VIP. Mereka yang menurut kabar datang dari Sleman dan Klaten kemudian disuruh pulang.

“Pada prinsipnya, Panpel Arema memberikan perlindungan kepada semua suporter. Ini kami lakukan agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merusak pertandingan,” imbuh pria yang juga mantan Kepala UPTD Stadion Kanjuruhan Malang itu.

Tidak Merasa Rugi BCS Sleman Batal ke Malang

Meski BCS Sleman batal ke Malang, Haris menegaskan tak merasa dirugikan lantaran puluhan juta potensi pemasukan dari tiket melayang. Yang ada di pikirannya justru bagaimana menyelamatkan pertandingan agar berjalan kondusif.

“Kami tidak berpikir untung-rugi, kalau pun seandainya BCS Sleman datang, lalu ricuh, kami kan malah rugi ratusan juta rupiah untuk denda. Yang kami utamakan pertandingan¬† berjalan lancar, pendapatan maksimal, dan tidak ada sanksi denda karena kericuhan,” tandasnya.