FIKSI: Maaf, Gadis Lamonganku!

FIKSI: Maaf, Gadis Lamonganku!
Gadis Lamonganku di antara penuhnya Stadion Surajaya Lamongan (C) BOLAINDO

Usai sesi latihan ditutup dengan doa, aku buru-buru ke ruang ganti. Segera kuraih tas tanpa mengganti jersey latihan lebih dahulu seperti teman-teman satu tim lainnya. Kuambil smartphone di dalam tas dan menghubungi seseorang melalui telepon Whatsapp dengan nick name Gadis Lamonganku.

“Hai, Hendra sayang. Jadi ke Lamongan? Berangkat kapan tim kamu?” sahut suara perempuan di seberang telepon.

“Timku berangkat sehari sebelum pertandingan, kalau begitu kita bertemu malam hari sebelum pertandingan ya?” kataku.

“Oke, Hendra sayang. Buruan istirahat dulu sana. Aku tahu kamu baru selesai latihan sama Arema-mu,” jawab perempuan itu lagi. “Met istirahat, sayang,” telepon pun ditutupnya.

Dia adalah Marshela, pemilik nick name Gadis Lamonganku di smartphone-ku. Ya, dia memang berasal dari Lamongan. Tapi, kami bertemu di Malang, sudah sekitar hampir empat tahun lalu, ketika dia baru jadi Maba (mahasiswa baru) di salah satu kampus di Malang. Kebetulan saat itu aku sedang mengikuti program Arema Go to Campus sebagai bintang tamu.

Lamongan Malam Ini..

Rombongan timku yang akan melakoni laga tandang ke markas Persela Lamongan di pekan ke-19 Liga 1 2019 tiba di hotel tempat kami menginap petang jelang maghrib. Setelah makan malam dengan tim, aku pun izin kepada pelatih untuk menemui Marshela.

Kami bertemu di kafe dekat Stadion Surajaya Lamongan. Kebetulan rumahnya memang tak jauh dari stadion. Kebetulan juga Marshela sedang libur kuliah, dan tinggal menyelesaikan skripsinya. Namun, entah kenapa dia tak mau ketemu di rumahnya saja.

“Hai, sayang. Sudah lama menunggu?” sapa Marshela yang menghampiriku yang sudah setengah jam duduk di kursi paling pojok.

“Belum,” jawabku singkat.

Melihat di meja sudah ada secangkir cappucchino dan roti bakar, Marshela kemudian memanggil pelayan, dan memesan makanan ringan dan jus alpukat kesukaannya.

“Sebenarnya ada hal penting yang harus kita bicarakan,” Marshela membuka obrolan. “Soal hubungan kita yang sudah hampir empat tahun,”

Aku hanya diam, mencoba menjadi pendengar yang baik, dan menelaah apa maksud dan arah pembicaraan Gadis Lamonganku itu.

“Kamu serius tidak sih sama aku?” tanyanya.

“Serius. Ini aku serius mendengarkan. Ngomong saja,” jawabku, yang langsung mengundang cubitan kecil di pinggangku. Sumpah sakit. Aku pun tak menyangka kebiasaannya itu keluar di saat yang tak kuduga.

“Sayang, maksudku kamu serius tidak dengan hubungan kita? Kalau serius, segeral lamar aku? Kamu sayang aku kan?” tanya Marshela.

Seketika suasana hening. Aku tak mampu menjawab apa-apa. Seisi kafe itu pun seolah ikut hening. Aku tak menyangka pembicaraan malam ini seserius barusan.

Jadi Tak Konsen..

Aku dalam posisi siap siaga di bawah mistar gawang. Sementara, pelatih kiperku sudah ada di depan sana, bersiap menendang bola. Perlahan kakinya terayun, ujung sepatunya menyentuh bola, dan meluncur deras ke sisi kanan atas gawangku. Bola yang melaju itu hanya kutoleh.

“Hendra!” seru Coach Karman, pelatih kiperku. “Konsentrasi!”

Hal serupa terulang lagi, bahkan hingga giliranku menjaga gawang lewat dalam sesi latihan pagi ini. Coach Karman hanya geleng-geleng kepala.

“Kamu itu mau kupasang jadi kiper inti nanti malam, kok jadi begini?” ujarnya.

Tak lama kemudian, sesi latihan di lapangan futsal itu diakhiri oleh pelatih kepala. Segera kulepas sarung tangan, dan masuk ke ruang ganti, mencari tasku. Saat kuambil smartphone, kudapati ada pesan Whatsapp masuk, dari Marshela.

“Kutunggu di depan Stadion Surajaya setelah latihan,” ucapnya.

Aku pun meluncur ke tempat yang dimaksud diantarkan ojek. Tak beberapa lama motor yang membawaku sampai di pelataran stadion. Kudapati Marshela sedang menunggu di bawah pohon.

“Maaf, aku baru selesai latihan,” kataku sambil memberikan seulas senyuman.

Tak lama, Marshela mengambil motornya di parkiran dan menghampiriku. “Kamu yang bawa ya sayang, nanti kuberi tahu jalannya.” Aku mengangguk.

Disambut Bapaknya..

Ternyata, kami berdua menuju ke rumahnya. Sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit dekat Stadion Surajaya. Tak kusangka, kami disambut bapaknya di muka pintu.

“Oh, jadi ini yang namanya Hendra Kurnia, yang katanya kiper utama Arema itu?” ucap bapak Marshela sambil menjabat tanganku. “Kenalkan, saya Marco,”

Kami beranjak ke ruang tamu. Aku mencoba tak kalah berwibawa. Asal tahu, ini momen pertama kalinya aku bertemu dengan calon mertuaku. Sebab, selama hampir empat tahun berpacaran dengan Marshela, aku sama sekali belum pernah dikenalkan dengan keluarganya.

“Sayang, aku berani mengenalkan kamu ke bapakku karena kamu sudah bilang mau serius dengan aku,” bisik Marshela.

“Hmm, jadi maksud kedatangan kamu ke sini untuk melamar anak saya? Iya?” suara serak-serak basah Om Marco kembali membuatku terhenyak.

Jujur sama sekali aku tak punya persiapan. Bahkan, maksudku datang ke Lamongan ini selain akan bertanding bersama tim Aremaku, hanya untuk menemui kekasihku yang kebetulan sedang pulang kampung ke kota ini. Sama sekali aku tak berpikir soal lamar-melamar. Namun, karena kadung cinta sama Marshela, akhirnya kuberanikan berkata,”Iya, Om. Saya ingin melamar anak gadis Om Marco,”

Jawabanku itu langsung disambut senyuman oleh Marshela. Bibirnya pun merekah, merona bak sekuntum bunga.

“Tapi ada syaratnya!” tukas Om Marco. “Saya ingin besok kamu buat Persela yang menang. Kamu kan kiper, jadi pura-pura sengaja kebobolan kan bisa,”

Aku pun kembali terhenyak oleh permintaan si calon mertua.

Malam Penentuan..

Pertandingan antara Persela Lamongan vs Arema yang kubela akhirnya datang juga. Satu jam sebelum kick-off, timku masuk ke lapangan Stadion Surajaya untuk melakukan pemanasan. Saat masuk ke lapangan, sekilas kulihat wajah Marshela ada di tribun VVIP. Ya, bersama bapaknya. Bapaknya yang menyuruhku mengalah agar Persela menang.

Dari Marshela aku baru tahu jika Om Marco itu adalah seorang bandar judi online. Hampir seluruh kawasan Jawa Timur dikuasainya. Kebetulan, untuk laga kali ini, dia sudah bertaruh untuk kemenangan Persela, sekalipun dia bukanlah fans Persela.

Kick-off pertandingan akhirnya dimulai juga. Beberapa kali gawang timku terancam. Beberapa kali pula aku harus jatuh bangun menyelamatkan gawangku. Aku seolah tak peduli, meski menyelamatkan gawangku sama artinya dengan menghancurkan masa depanku bersama Marshela. Aku tampil memukau hingga babak pertama berakhir dengan skor 0-0.

Tragedi Babak Kedua..

Pada babak kedua, dalam sebuah momen tengan sudut di depan gawangku, ada situasi yang mengancam dari penyerang asing Persela. Aku mencoba melompat setinggi mungkin menggapai bola di udara, tanpa sadar ada kakinya yang masuk ke perutku. Aku jatuh terhuyung-huyung, tertelungkup di atas rumput. Petugas medis segera menyergapku.

“Tinggal 15 menit lagi, masih kuat kamu?” tanya dokter tim kepadaku.

“Masih,” jawabanku sungguh klise. Bukan karena aku tak percaya pada kiper lain yang akan menggantikanku jika aku menyerah, melainkan aku khawatir ada gol yang membuat timku kalah dan si bandar itu tersenyum penuh kemenangan. Aku pun bangkit.

Tak kusangka, di penghujung babak kedua, timku mampu memaksimalkan peluang melalui tendangan bebas. Kapten timku berhasil melesakkan gol yang membuat kami pulang ke Malang dengan tiga poin.

Saat wasit meniupkan peluit tanda berakhirnya pertandingan, kulirik ke arah tribun VVIP, dan tersembul wajah penuh amarah dari Om Marco. Ya, Arema menang 1-0, artinya bandar yang kalah, dan masa depanku bersama Marshela terancam tak berlanjut ke pelaminan karena aku gagal memenuhi persyaratan dari bapaknya itu.

Namun, kulihat wajah Marshela di sebelah Om Marco tetap menunjukkan mimik bangga padaku. Sama sekali tak ada kekecewaan yang terpancar dari wajah baby face-nya.

“Maaf, Gadis Lamonganku. Aku memang cinta kamu, tapi Arema adalah harga diri dan kebanggaanku, yang harus kubela sampai titik darah penghabisan. Aku yakin, kalau kita berjodoh, masih adaa jalan menuju ke pelaminan. Percayalah,” gumamku sambil berlalu ke ruang ganti.

TAMAT

Cerita di atas hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan nama atau nama daerah, itu hanya sebuah kebetulan.