Batalyon Abdul Manan tak sendirian dalam memantapkan pendudukan di Karangploso, Singosari, Lawang, sampai perbatasan Pandaan usai melakukan wingate action. Ada peran Lettu Suyono dalam aksi mereka.
Buku Perjuangan Total Brigade IV menceritakan peran penting Lettu Suyono itu karena mendapat perintah langsung dari Kepala Staf Batalyon III untuk segera masuk ke sektor-sektor utara. Upaya ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu pasukan yang bergerak menyusup ke daerah sektor utara.
Dalam perjalanannya tersebut, Lettu Suyono kemudian bergerak memisahkan diri dari Kepala Staf Batalyon III di Desa Princi (daerah Kapten Yusuf) dengan melewati Pendem. Lalu, ia bergabung dengan gerakan wingate action pasukan Kompi Sumeru dari Batalyon Abdul Manan.
Lettu Suyono mengemban misi membantu MG-I dalam penyaluran segala instruksi, perintah, pengumuman, serta laporan dalam bidang operasi pertahanan teritorial kepada Komandan Sektor 102. Ia juga diminta untuk memberikan bantuan terhadap gerakan wingate Kompi Sumeru dan membangun stelsel wehrkreise di daerah sektornya, yang meliputi Karangploso, Singosari, Lawang, sampai perbatasan Pandaan.
Dalam misi tersebut, peran Lettu Suyono cukup krusial, yakni membantu Kompi Sumeru dalam memantapkan seluruh wilayah sektor 102 dalam menyelenggarakan pemerintahan sipil di empat wilayah yang sudah disebutkan. Tugas tambahannya adalah turut serta menggalang potensi wilayah dalam rangka memperkuat daya tahan perang gerilya di daerah tersebut.
Hasil dari Peran Lettu Suyono
Gerakan wingate action dilakukan dalam rangka menerobos wilayah pendudukan Belanda, untuk kemudian merebutnya kembali hingga menjadikannya sebagai wilayah Republik Indonesia. Lettu Suyono harus diakui punya peran penting dalam misi ini, termasuk dalam melakukan pendekatan kepada penduduk pribumi.
Sebuah usulan datang dari pihak militer agar setiap pemerintah desa memiliki dua buah stempel demi menjaga keselamatan penduduknya. Satu stempel akan digunakan jika penduduk memerlukan surat keterangan untuk masuk wilayah pendudukan Belanda, sedangkan yang lain untuk memasuki daerah yang dikuasai oleh pejuang RI. Penduduk pun memberikan sambutan yang positif terhadap usulan itu. Bahkan, mereka pun rela membayar pajak kepada pemerintah darurat RI.
Untuk mendukung berbagai upaya pengembalian moril dan kepercayaan penduduk, kelompok-kelompok pasukan gerilya meningkatkan kegiatan aksi penyerangan dan penghadangan terhadap pos-pos dan patroli Belanda. Aksi itu kebanyakan dilaksanakan menjelang subuh.
Gerilya ini dilakukan sebagai serangan balasan terhadap operasi pembersihan yang baru saja dilakukan tentara Belanda. Termasuk pasukan “O” yang berkedudukan di Desa Langlang, Singosari. Mereka pun secara koordinatif aktif melakukan kegiatan penyerangan dan penghadangan membantu pasukan Kompi Sumeru.
Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.


