Bikin Album Kompilasi Lagu-lagu Tentang Tragedi Kanjuruhan

- Advertisement -

Lagu-lagu tentang Tragedi Kanjuruhan bakal disatukan dalam album kompilasi. Gagasan itu muncul dari pengurus Museum Musik Indonesia berkolaborasi dengan Museum Sepak Bola Malang.

Sebagai langkah awal, Wahyu Eko Setiawan (WES) selaku Ketua Koprasi Jasa Bola Gajayana Indonesia, yang menaungi Museum Sepak Bola Malang menggelar rembug bareng di Stadion Gajayana, Kota Malang, Kamis (6/6/2024). Hadir pula Hengki Herwanto sebagai Ketua Museum Sepak Bola Malang.

Mereka mengundang keluarga korban Tragedi Kanjuruhan yang kini bersatu dalam Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK) yang diketuai Devi Atok. Mereka didampingi perwakilan Presidium Aremania Utas, Muhammad Anwar.

Hadir pula para musisi lokal Malang yang memiliki karya tentang tragedi itu, seperti Wahyu GV (Arema Voice) dan Wahyu KCMT (Voice of Malang). Ada juga Midun, sosok pengayuh sepeda keranda yang keliling Indonesia untuk menyuarakan Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan.

Wahyu Eko mengatakan, gagasan untuk bikin album kompilasi ini sebenarnya sudah lama. Tujuannya untuk mengumpulkan lagu-lagu tentang Tragedi Kanjuruhan yang tercecer di mana-mana menjadi satu album.

“Untuk bikin album kompilasi berisi lagu-lagu tentang Tragedi Kanjuruhan ini tentu kami harus izin dulu kepada keluarga korban, dalam hal ini YKTK dan kepada para musisi yang memiliki hak cipta atas karya tersebut,” kata WES.

Nantinya, album itu akan menjadi koleksi dan diputar di Musium Musik Indonesia, dan Museum Sepak Bola Malang. Lebih lanjut, album tersebut juga bakal menghuni Museum Pintu 13 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

“Album ini awalnya berisi 22 lagu, lalu berkembang menjadi 31 lagu. Masyarakat umum juga bisa memilikinya dengan berdonasi. Pengelolaanya dilakukan YKTK. Hasil donasi bisa dimanfaatkan untuk operasional YKTK dan kegiatan sosial lainnya,” imbuhnya.

“Untuk launching album ini rencananya akan kita buat konser Indonesia Damai. Mungkin di Stadion Gajayana, lalu tur di daerah-daerah lainnya. Untuk dananya akan kita gotong bersama-sama. Keuntungannya untuk pengelolaan museum dan YKTK.”

YKTK Menyambut Baik Rencana Hadirnya Album Kompilasi Lagu-lagu Tentang Tragedi Kanjuruhan

Ketua Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK), Devi Atok, menyambut baik rencana hadirnya album kompilasi lagu-lagu tentang Tragedi Kanjuruhan ini. Baginya, album ini sekaligus sebagai salah satu cara merawat ingatan tentang tragedi yang merenggut dua anak dan mantan istrinya tersebut.

“Kami sangat mendukung dan mengapresiasi teman-teman musisi untuk menggaungkan dan merawat ingatan tentang Tragedi Kanjuruhan. Kami sangat mendukung adanya album kompilasi ini, sehingga bermanfaat bagi keluarga korban dan korban yang luka,” ujar Devi Atok.

Menurutnya, YKTK ini merupakan yayasan independen yang dibentuk oleh para keluarga korban Tragedi Kanjuruhan. Mereka berbadan hukum dan terdaftar secara legal di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

YKTK ini bergerak di bidang hukum dan keadilan sosial yang dapat dipertanggungjawabkan secara legal dan sosialnya. Namun, menurut Devi Atok, yayasan tersebut didirikan bukan sekadar untuk keluarga korban dan korban Tragedi Kanjuruhan saja.

“Kami bersama-sama mendampingi masalah hukum dan keadilan sosial pasca Tragedi Kanjuruhan. Aremania yang menjadi korban di event-event apapun kami bisa membantu menjembatani berdampingan dengan Presidium Aremania Utas,” imbuhnya.

Selain merawat ingatan dengan album kompilasi ini, YKTK juga berencana membangun dan mengelola Monumen Pintu 13 di Stadion Kanjuruhan, bersama Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Malang. Devi Atok menyebut, rencana itu sudah mendapatkan izin dari Pemerintah Kabupaten Malang.

Menurutnya, merawat ingatan ini perlu dilakukan karena sampai saat ini keadilan yang diinginkan masih belum tercapai. Terbukti, laporan B mereka masih nyangkut di Bareskrim Polri, dan restitusi yang dijanjikan pemerintah untuk keluarga korban Tragedi Kanjuruhan belum terealisasi.

“Masyarakat Malang banyak yang sudah tidak mengikuti perjuangan kami, dan tidak tahu bagaimana keadilan buat para keluarga korban dan korban luka-luka. Kalau kita gak selalu menggaungkan maka masyarakat Malang bisa lupa,” tegasnya.

“Kalau kita gak menggaungkan, bisa saja pemerintah lupa, dan menganggap masyarakat Malang sudah menerima putusan peradilan kemarin. Hukum yang terjadi sekarang ini kan pasalnya kelalaian, padahal ini kasus pembunuhan, 135 yang meninggal dan ratusan yang luka.”

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.

Artikel Lainnya