FIKSI: Slemanona Ninggal Janji

Slemania Licek di Maguwoharjo
Slemania Licek di Maguwoharjo

Mereka yang belum merasakannya tak akan percaya pada istilah ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’. Perdebatan tentang hal itu yang mewarnai percakapan Aris dan Stenly, sesama fotografer media online di salah satu warung kopi di sudut Stadion Kanjuruhan Malang. Aris tak percaya rekan seprofesinya itu merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang Slemanona, suporter wanita PS Sleman.

“Panpel Arema jadi memperbolehkan suporter PS Sleman datang ke Malang gak sih?” tanya Stenly.

“Kabar terakhir sih jadi. Kenapa?” tanya Aris, sambil nyeruput segelas kopi susu yang masih dipenuhi kepulan asap.

“Mau nagih janji seseorang,” jawab Stenly singkat.

“Siapa?” tanya Aris lagi.

“Ingat gak sama gadis Sleman yang pernah kuceritakan waktu kita tur ke Stadion Maguwoharjo pada putaran pertama lalu?” Stenly bertanya balik seraya tangannya menggapai cangkir kopi milik Aris.

“Laras?” tanya Aris memastikan. Tak beberapa lama fotografer berambut belah tengah itu tertawa terbahak-bahak. “Gak bakalan datang tuh anak. Mau taruhan apa coba? Kutraktir makan sebulan kamu kalau dia datang,”

Kenangan Tak Terlupakan..

Stenly tentu tak bisa melupakan kenangan bertemu sosok Larasati, si Slemanona berparas manis di Stadion Maguwoharjo Sleman. Saat itu, bersama Aris, Stenly membuntuti tim Arema yang sedang melakoni laga tandang ke markas PS Sleman.

Sejak awal, sebelum kick-off pertandingan dimulai, suasana panas sudah bisa terendus. Banyak provokasi lewat chant-chat yang datang dari kubu suporter tuan rumah kepada pendukung tim tamu. Puncaknya di menit 30, saat Arema berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1, kericuhan pun pecah. Laga sempat tertunda sekitar satu jam lamanya.

Di tengah kericuhan antarsuporter, Stenly yang awalnya berada di pojok lapangan dekat bendera tempat melakukan tendangan sudut, kemudian menepi di bench. Tengak-tengok, tak ditemukannya rekan sejawat, Aris yang entah ke mana, begitu pula para pemain kedua tim yang tampak sudah dievakuasi ke dalam ruang ganti. Sementara, hujan botol air minum masih menghujam ke arah bench tempatnya berlindung.

“Mas, mas, sini,” panggil seseorang dari arah samping bench. Stenly menoleh. Tersembul wajah ayu berparas oriental dari dalam sebuah ambulans. Seketika lelaki itu tertegun. Dia merasakan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Stenly berpikir si paras cantik itu adalah perawat yang menjadi petugas medis di pertandingan ini.

Menyelamatkan Diri..

Sambil melindungi kepalanya dengan tas, Stenly pun berlari menuju arah suara. Pintu depan ambulans segera dibukakan untuknya. Namun, betapa kagetnya fotografer gembul itu begitu melihat orang-orang yang ada di dalam ambulans tersebut. Selain si wanita yang memanggilnya, ada tiga laki-laki lainnya yang mengenakan atribut pendukun PS Sleman. Di tandu perawatan tergeletak seorang laki-laki yang memakai atribut pendukung Arema yang sedang mendapatkan perawatan dari dua petugas medis.

Stenly seketika merasa ketar-ketir dan jiwanya terancam. Dia berpikir sudah berlindung ke tempat yang salah. Namun, saat hendak turun lagi dari ambulans, tangan gadis yang memanggilnya tadi meraih tangannya.

“Tenang saja, Mas. Di sini aman,” kata si wanita mencoba menenangkan Stenly. “Saya Larasati, ini teman-teman saya semua. Sopir ambulans ini juga kakak saya,”

Stenly mencoba memercayai kata-kata Laras. Namun, sikap badannya tetap waspada jika terjadi sesuatu pada dirinya sendiri.

“Kami dari kelompok suporter Slemania, saya sendiri Slemanona, tidak ada masalah dengan pendukung Arema. Yang ricuh itu kelompok suporter PS Sleman lainnya,” kata Laras menjelaskan.

Berpisah untuk Bertemu Lagi..

Sehari setelah pertandingan yang berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan PS Sleman atas Arema itu, Stenly dan Laras sempat bertemu. Laras melepas kepulangan Stenly di stasiun. Bersama rombongan tim Arema, dia pulang ke Malang dengan kereta api Malioboro Ekspres.

“Terimakasih ya, Laras. Kamu telah menyelamatkan nyawaku,” kata Stenly sebelum berpisah di pintu masuk stasiun.

“Sama-sama. Jaga diri selama di perjalanan ya, Mbul,” tukas Laras.

“Hah, Mbul?” Stenly keheranan.

“Iya, Gembul. Haha. Boleh kan aku panggil Gembul?” tanya si wanita.

“Haha. Iya, Pit, Sipit,” jawab Stenly. Seketika cubitan Laras mendarat di pundak Stenly karena merasa tak terima dengan panggilan Sipit yang diberikan si lelaki.

“Wah, malah pacaran di pintu masuk. Buruan masuk, Sten,” ujar salah seorang offisial tim Arema yang mengusung perlengkapan tim. Stenly dan Laras pun kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Sudah pulang sana, aku akan merindukanmu,” kata Laras. “Putaran kedua aku akan ke Malang,”

Menanti dan Terus Menanti..

Suara anthem Liga 1 dari dalam stadion menyadarkan Stenly dari lamunannya. Dilihatnya jam di tangan kirinya sudah menunjukkan pukul 14.30 WIB. Ketika anthem diputar biasanya pemain kedua tim masuk ke lapangan dan melakukan pemanasan. Satu jam lagi kick-off pertandingan Arema vs PS Sleman akan dimulai.

“Sudah, ayo kita masuk ke press room. Satu jam lagi kick-off lho,” ajar Aris sambil nyeruput kopi di cangkirnya lagi. “Habiskan ini, tinggal sedikit, lalu kita masuk,”

“Sebentar, mungkin sebentar lagi dia datang,” kata Stenly sambil terus mengawasi antrian suporter PS Sleman di Pintu 1 yang tak jauh dari warung tempat mereka ngopi. Mereka dalam kawalan ketat petugas kepolisian.

“Coba Whatsapp ke dia,” usul Aris.

“Sudah, dari kemarin centang satu. Aku sudah bilang kutunggu di warung kopi dekat Pintu 1,” jawab Stenly.

“Tapi bukannya ada kabar Slemania memastikan anggotanya tak ada yang datang ke Malang untuk pertandingan ini ya?” tukas Aris. “Kata Panpel Arema itu,”

Akhirnya Ada Jawaban..

Di tengah kegalauannya dalam menanti, ada seseorang yang menepuk pundak Stenly dari belakang. Sontak dia kaget dan hampir jatuh dari kursi. Saat ditolehnya, ada sosok yang menenakan jaket hitam dengan penutup kepala bermasker ala ultras. Stenly tak mengenalinya.

“Hai, Mbul,” sapa sosok misterius itu seraya membuka masker yang langsung menyembulkan paras ayu bermata sipitnya.

“Sipit!” pekik Stenly yang langsung menghujamkan ke pelukan pada sosok yang sudah lama dinantikannya itu. “Aku kangen,”

“Sama,” jawab Laras sambil terhanyut dalam pelukan lelaki di depannya itu.

“Ciee, cieee..” kata Aris yang merasa jadi ‘obat nyamuk’ di sebelah mereka. Keduanya pun melepaskan pelukannya.

“Sama siapa?” tanya Stenly kemudian. Namun, beberapa detik tak ada jawaban yang terlontar dari mulut Laras.

“Laras, lama banget, Beib? Katanya tadi ke toilet, tapi kucari ternyata di sini,” ujar seseorang dari arah belakang Stenly. “Siapa dia, Beib?”

Beib? Apa maksudnya? Gumam Stenly. Apakah mungkin?

“Dia ini pacarku, Mas. Masnya siapa?” kata si lelaki yang mengenakan jaket hitam ala ultras yang sama dengan yang dikenakan Laras.

“Pacar? Benarkah itu, Pit, Sipit? Kalau begitu selamat ya,” kata Stenly menjabat tangan gadis yang dicintainya itu.

“Waduh,” Aris turut buka suara.

“Saya bukan siapa-siapanya, Mas,” kata Stenly kepada pacar Laras. “Ris, ayo kita masuk ke dalam. Sekali lagi selamat ya kalian,”

Aris mencoba merangkul Stenly demi menutupi lankah gontai sahabatnya itu menuju ke pintu masuk media. Dia tahu Stenly sakit hati pada Laras. Sebab, penantiannya jadi sia-sia. Slemanona ninggal janji. Ya, janji palsu!

TAMAT

Cerita tersebut hanyalah fiksi belaka. Jika Ada kesamaan nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan belaka.