Setelah 10 hari lebih berlalu, pelaku pelemparan bus Persik Kediri setelah bertanding di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang (11/5/2025) lalu belum ada kejelasan. Manajemen Arema meresponsnya dengan mendorong pihak kepolisian agar segera mengusut tuntas kasus ini.
Insiden pelemparan dengan batu hingga menyebabkan kaca bus pecah itu terjadi usai laga Arema vs Persik di Pekan 32. Aksi pelemparan itu terjadi saat bus dalam perjalanan pulang dari stadion, di area ring 4 yang menjadi tanggung jawab kepolisian setempat.
Dikutip dari berbagai sumber, Polres Malang saat ini telah memeriksa 15 saksi insiden tersebut. Petugas juga menganalisa empat rekaman CCTV di Tempat Kejadian Perkara, video rekaman dari warga sekitar yang diunggah di media sosial, dan video yang direkam Skuad Persik yang berada di dalam bus.
General Manager Arema, Yusrinal Fitriandi mengaku sejauh ini belum mendapatkan kabar terbaru terkait kasus ini dari pihak berwajib. Sementara, akibat insiden itu Arema harus menanggung sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI berupa laga kandang tanpa penonton dan denda Rp20 juta.
“Ini kan sudah seminggu lebih, bahkan hampir dua minggu, tapi belum ketemu pelakunya. Dari klub, kami mendorong kepolisian untuk segera menangkap pelakunya, karena kita juga pengen tahu tersangkanya siapa dan motifnya apa,” kata Yusrinal.
Pelaku Pelemparan Bus Persik Kediri Bikin Penasaran Berbagai Pihak
Inal, sapaan akrab Yusrinal menambahkan, jawaban teka-teki siapa pelaku yang selama ini kerap disebut oknum itu membuat penasaran berbagai pihak. Menurutnya, bukan cuma Arema, tapi Aremania, warga Malang Raya, dan Persik juga ingin tahu kepastiannya.
“Kita menunggu prosesnya, semua prosesnya kan ada di kepolisian. Sebaiknya semuanya harus tahu pelakunya siapa dan motifnya apa. Itu saya pikir Aremania dan masyarakat juga ingin tahu,” imbuhnya.
Penetapan tersangka nantinya sekaligus sebagai pembuktian, apakah oknum itu Aremania atau ternyata pihak lain yang sengaja memperkeruh keadaan. Selain itu, menurutnya, penangkapan pelaku juga bisa menjaga kredibilitas dan tingkat kepercayaan publik terhadap aparat.
“Pastinya, itu juga menjadi pelajaran untuk yang lain, agar gak mengulangi aksi yang serupa di lain waktu. Kalau dibiarkan kan kasihan Aremania lainnya yang tengah membangun imej sebagai suporter yang gak anarkis,” pungkasnya.
