Salah satu bangunan tua di Malang adalah Tandon Air Tlogomas, bangunan tersebut sangat terlihat jika Anda dalam perjalanan melewati kawasan Dinoyo-Tlogomas atau tepatnya di Jalan Tlogomas 24.
Bangunan ini hadir untuk memberikan suplay air bersih kepada masyrakat Pemerintahan Kolonial Belanda di Gemeente Malang. Meskipun pada saat itu banyak warga yang menggunakan sumur, namun Pemerintah sudah berpikir bagaimana menyalurkan air bersih.
Penyediaan air di Malang sudah dimulai pada 31 Maret 1915 dengan nama Waterleideng Verordening Kota Malang. Tandon air Tlogomas sendiri diperkirakan memberikan suplai kepada masyarakat terutama warga negara Eropa dan Belanda yang tinggal di kawasan Ijen dan sekitarnya.
Sumber Tandon Air Tlogomas
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Pemerintah Kolonial Belanda menggunakan sistem penyadapan air yang dinamakan Brom Captering Air dari wilayah lain. Dari Sumber Karangan (Karang Ploso) yang dibangun pada 1915 dan Sumbersari yang dibangun pada 1928.
Air yang dikirim dengan sistem gravitasi itu untuk dialirkan ke Tandon Air Dinoyo (Gemeentilijke Waterleideng: De Resevoir van Dinojo). Karena Kelurahan Tlogomas dulu masih bernama Desa Guyangan, dan kawasan itu dulunya masih masuk Dinoyo.

Semakin berkembangnya penduduk yang semakin pesat, Pemerintah perlu menambahkan debit air. Penambahan itu dilakukan dengan membangun sumber baru yaitu dari sumber air Binangun yang dibangun 1931 dan selesai pada 1935.
Hak pengelolaan air untuk kemudian dimiliki Kotamadya Malang di tahun 1974, atau seiring dengan terbitnya Peraturan Daerah Nomor: 11 Tahun 1974. Unit Air Minum berubah dengan status Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).






Discussion about this post