Prasasti Katiden I sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan Wikramawarddhana atau Bhra Hyang Wisesa (1389-1429 M). Secara garis besar, isi prasasti itu menegaskan perintah sang kakek, Sri Wijayarajasa, untuk mencintai lingkungan pada wilayah Katiden, yang kini merupakan nama desa wilayah bagian Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.
Terdapat dua prasasti pada masa kerajaan Majapahit yang bernama Prasasti Katiden, yaitu Prasasti Katiden I bertarikh 1314 Saka dan Prasasti Katiden II tahun 1317 Saka. Tidak ada nama Raja dari ke dua prasasti tersebut.
Kedua prasasti bernama Katiden ini keluar saat pemerintahan Majapahit, yaitu saat Wikramawarddhana berkuasa. Serta berisi peneguhan kembali suatu kebijakan yang dulunya keluarkan oleh Bhre Wĕngkĕr Śrī Wijayarājasa, kakek Kusumawarddhani yang adalah permaisuri Wikramawarddhana.
Dalam Prasasti Katiden I hanya terdapat kalimat sira sang mokta ri kŗttabhuwana (ia yang meninggal di Kŗttabhuwana). Yang mana kalimat ini menunjuk pada Raden Kudamerta atau yang terkenal sebagai Bhre Parameśwara, yaitu raja kerajaan bawahan atau vasal Majapahit daerah Wengker. Ia berkeraton pada Pamotan dengan nama abhiseka Śrī Wijayarājasa. Gelarnya adalah Pāduka Bhatāra Matahun Śrī Wijayarājasāntawikramottunggadewa sebagaimana terbaca dari Prasasti Kuśmala bertarikh 14 Desember 1350 Masehi atau 1272 Śaka.
Menurut dari Prasasti Katiden I bahwa Bhre Wĕngkĕr Śrī Wijayarājasa adalah sosok yang sangat peduli dan berwawasan lingkungan. Hal tersebut sesuai dari keterangan Nagarakretagama yang mengatakan suatu peristiwa yang mana Bhre Wĕngkĕr Śrī Wijayarājasa mengajak para petinggi lainnya untuk memperhatikan dan peduli kepada lingkungan dan mencintai rakyat.
Prasasti ini bertuliskan pada satu lempeng tembaga berukuran 35×9,5 cm dengan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Pada bagian depan bertulisan enam baris, dan bagian belakangnya tiga baris. R.M.Ng. Poerbatjaraka menyebutkan, bahwa Prasasti Katiden II merupakan koleksi museum yang ada pada Malang dengan nomor R.M 893. Namun pada saat itu Malang belum ada museum.
Baca juga artikel menarik lainnya Makam Mbah Setyo Setuhu, Pusara Di Kaki Gunung Semeru





