Batik Lintang melelang karya-karya batik bermotif Tragedi Kanjuruhan. Rencananya, hasilnya akan didonasikan untuk para korban Kanjuruhan Disaster 2.
Ita Fitriyah sebagai Owner Batik Tulis mengaku merasa tergerak hatinya dengan adanya Tragedi Kanjuruhan yang terjadi lebih dari dua bulan lalu. Pengerajin batik tulis asal Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang itu mencoba mengaplikasikannya dalam karya-karyanya dengan motif khusus
Menurutnya, tujuannya membuat batik dengan motif Tragedi Kanjuruhan untuk membantu para korban dan keluarga. Hingga kini, mereka masih berjuang untuk mencari keadilan hingga tuntas.
“Kain ini kami lelang mulai sekarang sampai satu bulan ke depan. Nantinya uang hasil lelang itu seluruhnya akan kami berikan kepada korban Tragedi Kanjuruhan,” kata Ita dalam rilis yang diterima WEAREMANIA.
Inspirasi Batik Bermotif Tragedi Kanjuruhan
Ita menambahkan, motif batik Tragedi Kanjuruhan terinspirasi dari cerita anaknya, Lintang yang kebetulan hadir di Stadion Kanjuruhan saat itu. Selain itu juga kisah lain dari beberapa masyarakat yang disampaikan kepadanya.
“Batik Lintang membuat suatu karya tentang motif Tragedi Kanjuruhan, berdasar dari cerita siswa-siswi kami dan juga cerita anak kami,” imbuhnya.
Dalam batik karyanya itu, Ita menggambarkan tangan berbentuk emoji harapan, serta syal hitam tanda berdua. Ditambah pula dengan gambar singa bermahkota dan ada motif asap berwarna merah seperti yang diderita korban.
“Ini motif menceritakan ada banyak korban jiwa, kami gambarkan dengan tangan berbentuk emoji harapan, ada minta tolong dalam tragedi tersebut. Lalu ada syal berwarna hitam tanda berduka, kemudian ada singa bermahkota seperti patung yang ada di Kanjuruhan,” sambungnya.
“Kemudian ada motif asap bentuk asap dari Tragedi Kanjuruhan, kenapa berwarna merah, kami mengambil dari warna mata merah yang diderita korban. Lalu kepala kainnya berserakan puing-puing dan latarnya berwarna biru.”
Butuh Waktu 4 Minggu
Untuk proses konseptual hingga memproduksi kain batik khusus Tragedi Kanjuruhan ini, Ita membutuhkan waktu kurang lebih empat minggu. Dua minggu untuk penggambaran konsep, dan dua mingu lainnya untuk proses pengerjaan batik tulis.
“Konseptualnya membutuhkan waktu sekitar dua minggu, lalu untuk teknis proses pengerjaan kain batik motif tragedi Kanjuruhan ini sekitar dua minggu,” imbuh alumnus Teknik Tekstil ITN Malang ini.
Ita menegaskan hanya memproduksi dua kain bermotif khusus ini saja dan tidak akan memperbanyaknya. Semua kain itu akan dilelangnya.
“Dan motif ini tidak diperbanyak karena bertujuan untuk didonasikan untuk korban tragedi tersebut dan perjuangan para korban yang sampai sekarang berjuang menuntut keadilan,” pungkasnya.





