Friday, July 3, 2026
  • Kontak
  • Iklan
Ngalam Wearemania
  • Terbaru
  • Destinasi
  • Malangan
  • Kuliner
  • Info Penting
  • Arema FC
No Result
View All Result
Ngalam Wearemania
No Result
View All Result
Home Malangan

Yadnya Kasada Masyarakat Tengger, Begini Asal Usulnya

Upacara di Gunung Bromo

Ongis Mbois by Ongis Mbois
28 June 2024
in Malangan, Sejarah
0 0
0

Yadnya Kasada alias upacara oleh masyarakat Tengger di Gunung Bromo adalah upacara seserahan hasil bumi kepada Sang Hyang Widhi. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun, di hari ke-14 bulan Kasada dalam kalender Jawa. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati Sang Hyang Widhi dan para leluhur. Begini asal-usulnya.

Pada zaman dahulu,hiduplah gadis cantik bernama Roro Anteng, seorang putri bangsawan anak dari Raja Majapahit dan permaisurinya. Raja ini dikisakan hijrah ke Gunung Brahma alias Gunung Bromo karena dikalahkan oleh putranya sendiri.

ArtikelTerkait

Sejarah Pabrik Gula Kebonagung Malang, Berdiri Sejak 1905

Sejarah SMA Negeri 1 Malang, Berawal dari Sekolah Liar hingga Jadi SMA Favorit di Kota Malang

Sejarah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Romantisme di Balik Sejarah Nama Kasembon

ADVERTISEMENT

Nama Roro Anteng memiliki arti tersendiri. Anteng yang dalam bahasa Jawa berarti tenang atau pendiam. Putri raja ini dinamai demikian karena saat dilahirkan, ia anteng alias tidak menangis seperti bayi pada umumnya. Sementara itu, ekat dengan tempat tinggalnya, ada seorang brahmana yang memiliki putra bernama Joko Seger. Berkebalikan dengan Roro Anteng, Joko Seger terlahir dengan suara tangisannya yang sangat keras. Jika diartikan dalam bahasa Jawa, Seger berarti segar, subur, atau makmur.

Tengger: Roro Anteng dan Joko Seger

Roro Anteng tumbuh menjadi gadis cantik, pun dengan Joko Seger yang tumbuh menjadi pemuda tampan. Banyak pemuda yang ingin meminang Roro Anteng, namun mereka semua ditolak olehnya. Roro Anteng jatuh cinta pada Joko Seger, dan keduanya kemudian menikah. Mereka hidup berdua dan membangun pemukiman baru di wilayah Gunung Bromo. Desa ini dinamakan Tengger, sebagaimana gabungan nama keduanya, Roro An(teng) dan Joko Se(ger).

Setelah menikah selama bertahun-tahun, mereka belum juga dikaruniai anak. Karena keinginannya yang sangat kuat tersebut, Joko Seger kemudian memutuskan untuk bertapa di Watu Kuta, dengan tujuan memohon diberikan keturunan pada Sang Hyang Widhi. Tekadnya sudah bulat, Joko Seger bahkan besumpah pada Dewa jika ia diberikan 25 anak, maka salah satunya akan dipersembahkan di kawah Gunung Bromo. Seketika itu juga muncullah jilatan api dari kawah, dan Roro Anteng pun mengandung.

Roro Anteng kemudian melahirkan sepasang bayi lelaki kembar. Begitu pula di tahun-tahun berikutnya, ia melahirkan bayi-bayi kembar. Bertahun-tahun berlalu, keduanya kini telah memiliki 25 orang anak. Namun seperti terlena akan kebahagiaan yang diimpikan selama ini, Joko Seger lupa janjinya kepada sang Dewa bahwa ia akan mempersembahkan salah satu anaknya.

Yadnya Kasada, Persembahan ke Kawah Gunung Bromo

Suatu malam, Joko Seger ditegur oleh Dewa melalui mimpi. Dewa mengingatkan akan janjinya dahulu jika telah memiliki 25 anak, maka ia akan mempersembahkan salah satunya ke kawah Gunung Bromo. Joko Seger kemudian bercerita pada Roro Anteng. Ia bimbang. Joko Seger ingin menepati janji, tapi ia sangat menyayangi semua anak-anaknya.

Setelah bercerita pada istrinya, Joko Seger kemudian menyampaikan hal ini pada ke-25 anaknya. Semuanya terkejut endengar pernyataan ayahandanya yang ingin menumbalkan anaknya. Sontak saja mereka menolak, kecuali Jaya Kusuma, si bungsu yang rela menjai persembahan pada Dewa.

Tepat di tanggal 14 bulan Kasada, Jaya Kusuma akhirnya menceburkan diri ke kawah Gunung Bromo untuk memenuhi janji ayahnya, Joko Seger. Sebelum melakukan hal ini, ia berpesan pada penduduk untuk mempersembahkan hasil ladang mereka di tanggal yang sama setiap tahun.

Hal inilah yang menjadi alasan masyarakat Tengger mempersembahkan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo setiap tangga 14 bulan Kasada. Tradisi untuk menghormati arwah leluhurnya tersebut, maka tradisi ini disebut Yadnya Kasada.

 

Baca Juga: Bromo Transit Park, Wisata Tumpang Rasa Ubud Bali

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.

Tags: Asal Usul Upacara KasadhaGunung BromoHyang Widhimasyarakat tenggerPoncokusumosuku tenggertradisi zaman dahuluupacara bromoupacara kasadaupacara kasadhaUrban Legendyadnya kasada
ShareTweetSend
Previous Post

Coban Supit Urang yang Memacu Adrenalin

Next Post

Resep Sempol Ayam Wortel Sehat

Ongis Mbois

Ongis Mbois

Kuli tinta yang mendedikasikan diri untuk Bhumi Arema

Related Posts

prasasti camunda
Sejarah

Kegagahan Sri Maharaja Kertanagara dalam Prasasti Camunda

26 October 2024
Malangan

Istilah-istilah Khas yang Hanya Dipahami Oleh Arek Malang

10 October 2024
Malangan

Istilah-istilah Khas yang Hanya Dipahami Oleh Arek Malang

9 October 2024
watu tumpuk
Destinasi

Watu Tumpuk, Situs Kuno Bendungan Sutami

7 October 2024

Arema FC

    Ngalam Wearemania

    Berita dan Destinasi Wisata Malang Raya dari Wearemania Network

    KATEGORI

    • Akomodasi
    • Berita Terbaru
    • Destinasi
    • Event
    • Fakta dan Mitos
    • Info Penting
    • Kuliner
    • Malangan
    • Ngalampedia
    • Ramadan
    • Sejarah
    • Tokoh
    • Wisata

    WEAREMANIA NGALAM

    Redaksi
    Kebijakan Privasi
    Pedoman Media Siber
    Pengaduan

     

    Disclaimer
    Hak Jawab & Koreksi Berita
    Ketentuan Pengguna
    Kontak dan Iklan

    © 2021 Ngalam Wearemania by Wearemania Network.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Terbaru
    • Destinasi
    • Malangan
    • Kuliner
    • Info Penting
    • Arema FC

    © 2021 Ngalam Wearemania by Wearemania Network.