Bicara soal Gunung Semeru, tentunya tak bisa lepas dari sosok Mbah Dipo. Dialah sosok juru kunci Gunung Semeru yang terletak di kawasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang itu.
Gunung setinggi 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) ini menjadi primadona bagi para pendaki Tanah Air. Bukan pecinta alam kalau belum pernah mencapai puncak Mahameru.
Pesona gunung tertinggi di Pulau Jawa itu ternyata ada yang ‘menjaga’. Gunung yang juga dikenal sebagai tempat abadi para dewa ini ternyata menyimpan sejuta misteri, termasuk tanda-tanda aneh saat mengalami erupsi.
Pertanda yang kadang tak dapat dinalar oleh akal sehat manusia itu cuma bisa dilihat oleh sosok Mbah Dipo. Dia berdiam di sekitar lereng gunung bersama sejumlah warga lainnya.
Mbah Dipo diyakini menjadi satu-satunya orang yang bisa menafsirkan pertanda tersebut ketika Gunung Semeru hendak meletus. Pria itu pula lah yang kerap dimintai pendapatnya untuk menentukan kapan harus evakuasi.
Mengenal Sosok Mbah Dipo di Masa Muda
Semasa mudanya, Mbah Dipo ternyata menghabiskan waktunya untuk bertapa di Mahameru, puncak Gunung Semeru. Saking lamanya menjalani proses nyepi itu, rambutnya konon mencapai sepinggang.
Pria dengan tiga istri itu dalam menjalankan tugasnya sebagai juru kunci memiliki kebiasaan menarik. Para tamu dipersilakannya untuk bermalam di rumah sampai diizinkan pulang.
Mbah Dipo tak akan mengizinkan pulang meskipun si tamu itu meminta izin pulang. Sebaliknya, jika Mbah Dipo tidak menghendaki si tamu menginap, maka haram hukumnya si tamu bermalam. Jika ada yang melanggar aturan ini pasti si tamu akan mengalami suatu kejadian.
Sejak menjadi kuncen, Mbah Dipo berjanji akan menjamin keselamatan seluruh warga yang tinggal di lereng Gunung Semeru. Mereka dijamin tidak akan terkena musibah.
Akhir Hayat Mbah Dipo
Kini, ketika Gunung Semeru mengalami erupsi lagi pada Desember 2021, Mbah Dipo sudah tiada. Dia meninggal pada tahun 2007 silam karena sebuah penyakit yang diderita.
Nyawanya tak bisa diselamatkan lantaran menolak untuk dirawat di rumah sakit terdekat. Mbah Dipo menolak berobat karena yakin dokter akan bilang kalau tidak ada penyakit yang dideritanya saat itu.
Mbah Dipo meninggal di Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Dia pun dimakamkan di tanah belakang rumahnya.
Sebagai pengganti Mbah Dipo, tugas sebagai juru kunci Gunung Semeru beralih pada Eyang Putri, yakni istri ketiga almarhum yang bernama Soeparti. Penunjukan tersebut sesuai dengan isi surat wasiat yang ditinggalkan Mbah Dipo sebelum menutup mata untuk selamanya.
Baca nih: Legenda Gunung Semeru yang konon jadi paku bumi Pulau Jawa




