Persija Bertabur Pemain Bintang, Arema Tidak Iri

Persija Bertabur Pemain Bintang, Arema Tidak Iri
Dave Mustaine (C) DANI KRISTIAN

Musim ini Persija Jakarta benar-benar menjadi tim bertabur pemain bintang di Liga 1 2020. Namun, General Manager Arema, Ruddy Widodo menegaskan tidak iri sama sekali.

Menurutnya, mengontrak pemain-pemain bintang, selain tidak ada jaminan juara, juga memiliki tantangan tersendiri. Manajer berkaca mata itu bisa bicara demikian, karena sudah berpengalaman mengumpulkan bintang-bintang lapangan hijau di Arema pada musim 2012-2013.

Saat itu, dengan pelatih Rahmad Darmawan, skuad Singo Edan nyaris meraih juara jika mampu menyalip Persipura Jayapura di puncak klasemen. Di klasemen akhir, Arema yang diperkuat mantan-mantan top skor macam Alberto Goncalves, Cristian Gonzales, Greg Nwokolo, dan Kayamba Gumbs, menempati posisi runner up.

“Sepak bola itu permainan 11 orang di lapangan. Pertanyaannya, kalau Persija dan Bhayangkara FC mengontrak banyak pemain bintang, tinggal bagaimana bisa padu atau tidak,” kata Ruddy.

Tergantung Pelatih yang Membawa Persija Bertabur Pemain Bintang

Ruddy Widodo menyebut, kuncinya ada pada pelatih. Baik Persija maupun Bhayangkara FC saat ini dilatih oleh pelatih asing.

Menurutnya, tidak bisa cuma mengontrak pemain-pemain bintang saja, tapi juga harus mengontrak pula pelatih yang benar-benar bisa handling tim untuk menyatukan bintang-bintang tadi. Manajer berusia 48 tahun ini menilai, dulu mungkin bisa mengontrak pemain-pemain bintang, lalu pelatihnya biasa saja, tapi bermain dengan wasit.

“Sepakbola itu kuncinya pada pelatih, harus yang terbaik. Mungkin kalau pelatihnya pintar, maka cepat memadukan pemainnya. Kalau tidak, ya gagal. Sekarang ini sepak bola sudah semakin maju, semua pertandingan disiarkan langsung, handphone disadap, jangan harap bisa seperti itu lagi,” imbuhnya.

Pemain Bintang Bisa Saja Menguntungkan Secara Bisnis

Ruddy Widodo tak memungkiri, mengontrak pemain-pemain bintang bisa saja menguntungkan klub secara bisnis. Tapi, kembali lagi, menurutnya memanajeri klub bertabur pemain bintang itu juga tak segampang yang dikira banyak orang.

“Kalau dari segi bisnis mungkin menguntungkan, banyak penonton datang ke stadion, lalu sponsor berdatangan, minimal melirik. Tapi, tantangannya itu tadi, mengontrak pemain bintang sama dengan ngemong raja, membutuhkan seni tersendiri. Kalau pelatih tidak bisa handle tim ya sulit, karena ego masing-masing pemain,” tandas manajer berusia 48 tahun ini.