Claudio de Jesus yang Tiga Musim di Arema Juara Terus

Claudio de Jesus yang Tiga Musim di Arema Juara Terus

Claudio de Jesus tiga musim bermain di Arema. Pemain yang hari ini (25/6/2020) genap berusia 45 tahun itu mempersembahkan gelar juara tiap musimnya.

Stopper asal Brasil itu didatangkan Arema yang bermain di kasta kedua. Pada musim itu, skuad Singo Edan dibawanya menjadi juara Liga Pertamina Divisi I 2004, sekaligus naik kembali ke kasta tertinggi Divisi Utama.

Setelah naik kasta, Claudio kembali mendapatkan perpanjangan kontrak selama semusim oleh manajemen Bentoel yang mengelola Arema. Gelar juara kembali diraihnya, kali ini juara Copa Indonesia 2005.

Kisah manis pemain kelahiran Brasil, 25 Juni 1975 itu di Skuad Singo Edan berlanjut di musim 2006. Secara berturut-turut, bek tengah bertinggi badan 183 cm itu membawa Arema kembali menjuarai Copa Indonesia 2006.

Claudio de Jesus yang Betah Tinggal di Malang

Claudio de Jesus sudah tinggal di Malang sejak 15 Januari 2004 dan menemukan tambatan hatinya di kota yang sama. Pemilik jersey bernomor punggung 21 itu pun mengibaratkan kisahnya itu seperti judul lagu Letto, Sandaran Hati.

Bukan karena tidak ingin pulang ke Brasil, Claudio betah tinggal di Malang lantaran istrinya asli orang Malang dan ketiga anaknya pun semua lahir di kota ini. Tak heran jika Claudio merasa betah di Malang.

“Saya telanjur cinta Malang dan Indonesia, sampai-sampai saya baru sadar jika sudah belasan tahun tinggal di kota ini. Nanti jika ada rezeki lebih, saya ajak keluarga liburan ke Brasil bertemu keluarga besar saya di sana,” kata Claudio.

Atas Ajakan Carlos de Mello

Diakuinya, Carlos de Mello adalah orang paling berjasa bagi kariernya di Indonesia. Claudio menyebut mantan pemain Persebaya Surabaya era 1990-an itulah yang mengajaknya bermain di Indonesia.

Saat pertama kali datang di Malang untuk memperkuat Arema, Claudio bersama dua pemain asal Brasil lainnya, Joao Carlos dan Junior Lima. Pada putaran kedua musim 2004, menyusul pemain asal Brasil lainnya ke Arema, Rivaldo Costa.

Pengalaman Paling Pahit dan Berkesan

Claudio menceritakan pengalaman paling pahit dan berkesannya selama memperkuat Arema. Setidaknya ada dua hal yang membuatnya sempat bersedih saat itu.

Pertama, pengalaman yang paling pahit menurutnya adalah ketika harus pergi meninggalkan Arema di akhir musim 2006. Pada Ligina 2007, dari empat pemain asal Brasil yang memperkuat Arema sejak 2004, cuma tersisa nama Joao Carlos.

“Yang paling berkesan adalah saya tiga kali juara tiga musim di Arema, juara Divisi 1 tahun 2004, juara Copa Indonesia 2005 dan 2006. Sayang di Ligina 2005 dan 2006 cuma sampai babak 8 besar,” kenangnya.

 

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.