Kisah Inspiratif Pak Tik yang Mengabdikan Diri Kepada Keluarga Korban Kanjuruhan Disaster 2

Ada kisah inspiratif datang dari Aremania Blitar bernama Andrian Sutikno. Pria yang akrab disapa Pak Tik itu memutuskan mengabdikan dirinya kepada keluarga korban Kanjuruhan Disaster 2.

Sejak tragedi itu terjadi di Stadion Kanjuruhan (1/10/2022) lalu, Pak Tik mengaku belum sempat pulang ke rumahnya. Aremania berusia 66 tahun itu memilih menemani keluarga korban yang dirawat di RSUD dr. Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang setiap hari.

Alasan pertamanya menjadi pendamping keluarga korban tragedi ini adalah merasa sama-sama sebagai Aremania. Menurutnya, inilah saatnya makna salam satu jiwa ditunjukkan.

“Selain itu, saya melihat sendiri kondisi para korban. Saya juga melihat keluarga korban yang menunggu di rumah sakit ini, seakan-anak malah menjadi korban kedua. Mereka menderita batin,” kata Pak Tik.

Menurutnya, keluarga korban itu harus meninggalkan pekerjaan, memikirkan anaknya bisa sembuh atau tidak. Tiap setelah dipanggil dokter, mereka cuma menangis, lalu merangkul Pak Tik.

“Mereka bertanya-tanya apakah anaknya besok itu bisa sembuh atau mati, mengingat sudah banyaknya korban jiwa. Batin saya ikut menangis. Di sini saya berpikir, keluarga korban ini butuh teman atau pendampingan, karena mereka tidak ada lagi tempat mengadu, butuh orang yang diajak curhat,” imbuhnya.

Peran Penting Pak Tik Lainnya Bagi Keluarga Korban Kanjuruhan Disaster 2

Pak Tik juga berperan penting sebagai alarm pengingat di malam hari bagi keluarga korban. Misalnya, ketika tengah malam dokter jaga memanggil keluarga korban, Pak Tik lah yanng siap memberitahukan.

“Dokter kalau memanggil kan sewaktu-waktu. Sementara, keluarga korban itu capek, lalu tertidur pulas, sehingga tidak mendengar panggilan. Saya yang bagian mencari, saya bangunkan, karena saya sudah hapal, saya bilang dipanggil dokter,” ujar Pak Tik.

Selain itu, Pak Tik juga berperan sebagai penunjuk jalan bagi para dermawan yang ingin memberikan donasi kepada keluarga korban. Biasanya, para dermawan yang hendak memberikan donasi ke keluarga pasien di RSSA bakal menggubungi Pak Tik terlebih dahulu.

“Mereka kan tidak tahu mau memberikan donasi kepada siapa saja. Saya tidak tahu, tiba-tiba saja mereka dapat nomor handphone saya, lalu menelpon. Saya yang menunjukkan mereka menemui keluarga korban, sehingga donasi tersalurkan ke sasaran,” sambungnya.

Justru Mendapatkan Dukungan Keluarga dan Teman-teman

Pak Tik mengaku tak pernah khawatir dicari keluarga di Blitar meski sejak 26 hari lalu tak pulang. Justru dukungan dari keluarga dan teman-teman yang membuatnya semakin bersemangat mengawal keluarga korban di RSSA.

Keluarga di Blitar sudah dikabarinya terkait pilihan hidupnya mendampingi keluarga korban ini. Pak Tik kebetulan juga sudah lama hidup menduda, sedangkan anaknya juga sudah berumah tangga dan tinggal di Kepanjen, Kabupaten Malang.

“Pertama saya ceritakan, saya malah diberi support, termasuk anak saya yang di Kepanjen itu. Selalu menelepon menanyakan kabar saya. Bertanya apakah saya kehabisan uang atau pulsa, dia siap mengirimki. Tapi, saya bilang, saya masih ada uang uang pegangan,” sambungnya.

Bukan cuma keluarga, bos di tempatnya bekerja juga mendukung aksi sosial yang dilakukannya. Beruntung pekerjaannya sebagai koordinator armada pengangkut pasir bisa dilakukannya dari jarak jauh.

“Bos saya sendiri bilang, kalau demi kemanusiaan kamu teruskan tidak apa-apa. Pekerjaan kan bisa dilakukan lewat handphone. Saya malah makin bersemangat mendengarnya,” ujar Pak Tik menambahkan.

Solidnya Aremania Bikin Pak Tik Terharu

Bukan cuma dukungan moril dari keluarga dan atasannya saja yang membuat Pak Tik semakin bersemangat menjalani aksi sosialnya di RSSA. Solidnya Aremania dalam mendukungnya secara teknis maupun materi turut membuatnya terharu.

Untuk mengusir rasa seri di halaman RSSA, tiap hari Pak Tik menghubungi teman-teman dekatnya dari berbagai kalangan Aremania. Tiap menjelang waktu maghrib, ada saja dari mereka yang menemaninya mengobrol, bahkan sampai dini hari menjelang subuh.

“Mereka juga sering mengingatkan saya agar tidak lupa menjaga kesehatan, jangan sering-sering kena angin malam, makan teratur. Bahkan, tak sedikit yang menawarkan siap membantu memenuhi apa pun yang saya butuhkannya selama tinggal di rumah sakit,” tambahnya.

Suatu ketika, ada yang tiba-tiba mengirimkan paket berisi jaket baru untuknya dan pesan untuk selalu memakainya. Sebab, saat datang dari Stadion Kanjuruhan ke RSSA, Pak Tik hanya mengenakan pakaian kaos yang seadanya.

“Solidaritas seperti ini malah yang bikin saya pengen nangis. Bahkan, ada yang bilang ke saya, jangankan satu-dua bulan, satu tahun mau tinggal di Malang, saya dipersilakan. Katanya, jangan takut mati kelaparan, karena mereka siap menjamin makan buat saya, kalau demi kemanusiaan. Ini yang membesarkan hati saya,”

Kabar tentang Kanjuruhan Disaster 2 akan terus kami sajikan secara tajam, berimbang, dan terpercaya. BACA: Klik di sini untuk terus mengikuti update berita tentang Kanjuruhan Disaster 2 dari segala sisi.