Pasca Kanjuruhan Disaster 2, Disarankan Patung Kepala Singa Diganti

Pelaku spiritual, Ki Sabdalangit menyarankan patung kepala singa bermahkota diganti pasca Kanjuruhan Disaster 2. Patung bermahkota bernama Tegar itu dinilai kurang menggambarkan sosok singa itu sendiri.

Menurutnya, patung kepala singa itu justru menampilkan wajah penuh kesedihan. Hal itu tergambar dari bentuk mata, hidung, mulut dan wajahnya yang mirip manusia menahan tangis.

Menurut informasi, patung ini didesain oleh Sobirin, seorang Dekan Fakultas Seni di sebuah kampus di Yogyakarta. Karya yang kemudian dijadikan kado Hari Ulang Tahun Arema ke-35 itu menuai kritikan dari Ki Sabdalangit.

“Saya tidak menyalahkan arsiteknya. Banyak yang bisa membuat bentuk singa sampai mirip singa betulan. Kalau ini justru seperti lipatan-lipatan kertas. Ini kalau dari sisi kewibawaan sudah tidak ada. Apalagi dari sisi kesakralan,” kata Ki Sabdalangit.

“Apakah ini kekurangan dari arsiteknya? Kita tidak bisa menyalahkan juga. Patung ini merepresentasikan suatu peristiwa yang akan terjadi, atau adanya kesalahan membuat simbol menjadi doa yang salah.”

Ki Sabdalangit menyebut, dalam adat Jawa, berdoa bukan cuma lewat mulut saja, tapi juga lewat simbol-simbol, seperti arca, candi, atau situs sejarah. Sebagai tempat peersembayangan, bangunannya candi misalnya, menjadi simbol-simbol doa dan harapan.

“Makanya, ketika mewujudkan doa dan harapannya menjadi material atau bangunan, itu ibaratnya orang tersebut melakukan doa dan pengharapan setiap detik,” imbuhnya.

“Tapi juga bisa sebaliknya, ketika orang menorehkan sesuatu, tapi sesuatu itu secara tak sengaja merepresentasikan suatu bentuk atau peristiwa yang merupakan suatu peringatan.”

Proses Pembuatan Patung Kepala Singa Diduga Tidak Melalui Laku Spiritual

Ki Sabdalangit menduga pembuatan patung yang ada di halaman Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang itu tidak melalui proses laku spiritual. Menurutnya, sesuai adat Jawa, alangkah baiknya patung itu dibuat seseorang yang punya laku spiritual, bukan asal seniman

Menurutnya, membuat patung singa ini juga ada hubungan spiritual, spirit olahraga, semangat, dan tradisi leluhur dulunya. Sebab, patung ini merepresentasikan ke sana, sesuai harapan dan cita-cita.

Misalnya, ingin membuat patung singa yang perkasa, singo edan, gambarannya singo yang gagah, tidak ganas tapi penuh energi kewibawaan. Itu menjadi doa yang tersurat, tertulis dalam patung itu sendiri.

“Semua itu cara manusia mengartikulasikan sebuah doa dan harapan, sehingga sehari-hari kita lihat dan pandangi, akan terpaku, merasuk, dan meresap ke jiwa raga, menjadi kekuatan dalam diri,” ujar Ki Sabdalangit.

“Kalau patungnya ternyata tidak sesuai, itu bisa saja menginspirasi sesuatu yang kurang baik. Bisa disepadankan dengan orang terhipnotis kesadarannya dengan benda-benda yang merupakan doa dan harapan tadi.”

Ki Sabdalangit mencontohkan para seniman patung di Pulau Bali yang sudah terbiasa dengan laku spiritual. Mereka disamakan dengan sosok Mpu di Jawa yang selalu melakukan ritual sebelum membuat keris.

“Untuk membuat patung-patung sakral memang harus dipilih pematung yang laku spiritualnya benar dan pas,” pungkasnya.