Bus Arema Mengundang Kekaguman Aremania Pengamat Bus

Bus Arema yang baru diresmikan Rabu (11/8/2021) kemarin mengundang kekaguman Aremania sekaligus pengamat bus, Andreas Lucky Lukwira. Pendukung Arema yang berdomisili di Jakarta itu terkesan dengan sejumlah spek bus dari Juragan99 Trans tersebut.

Presiden Klub Arema, Gilang Pramana memberikan bus untuk akomodasi tim Arema dengan spesifikasi Jetbus 3+/HDD, memakai chassis Mercedes Benz OH 1526, dan velg Alcoa. Andreas menilai, meski chassisnya bukan tergolong chassis premium, tapi baginya sudah lebih dari layak dipasang pada bus yang disiapkan untuk menempuh perjalanan jauh.

“Chassis yang sama juga digunakan pada bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dengan rute Jawa-Bali-Sumatera. Apalagi ini sekadar bus untuk rute ke tempat latihan yang hitungannya dalam kota, dan hanya sesekali untuk ke luar kota,” kata Andreas kepada WEAREMANIA.

“Karoserinya, Adiputro sudah dikenal dengan kualitasnya yang baik. Di dunia perbisan Indonesia, Adiputro termasuk salah satu karoseri papan atas. Karoseri ini juga ada di Malang, sehingga mengandung filosofi ‘dari Malang untuk Malang’.”

Bus berkapasitas 40 kursi ini dilengkapi fasilitas tambahan, seperti smart TV 20″ dan 40″, toilet, kulkas, dispenser, AC, wifi, dan Playstation5. Kelengkapan kabin tersebut menurut Andreas tidaklah umum.

“Menurut saya, kelengkapan kabin itu menambah kesan mewah. Sam Gilang mungkin melihat bus tidak sekedar sebagai alat transportasi, di mana penumpangnya hanya duduk, tapi bisa melakukan aktivitas lain. Ini penting, terutama dalam perjalanan jauh, agar pemain dan anggota tim tidak jenuh,” imbuh pria kelahiran Malang itu.

“Kesan mewah ditambah lagi dengan velg Alcoa, di mana tidak semua bus menggunakan velg merk ini.”

Biaya Perawatan Bus Arema Mahal?

Andreas juga menyinggung mengenai biaya perawatan bus Arema dari Juragan99 Trans tersebut yang mahal. Namun, menurutnya biaya perawatan bus yang interior dan eksteriornya didominasi warna biru itu bisa ditekan.

Meski berpengalaman di bidang perbisan dan travel, Andreas kurang paham berapa nominal bujet yang dibutuhkan untuk biaya perawatan bus dalam satu tahun. Yang diketahuinya, bus yang memakai chassis seperti yang dipakai bus skuad Singo Edan itu memang mahal.

“Chassis 1526 itu sudah generasi Mercy electrik, jadi perawatannya tidak seperti generasi sebelumnya. Seperti motor, perawatan Beat lebih rumit dari Astrea, karena computerized. Kerusakan memang gampang terdeteksi, tapi di sisi lain kalau rusak satu komponen, biasanya berpengaruh ke seluruhnya. Kata beberapa pengusaha bus, chassis 1526 itu tidak simpel,” imbuhnya.

Selain kompleksnya perawatan sparepart, Andreas juga menyebut sejumlah pos beban pengeluaran lainnya. Mulai dari gaji kru (bisa per bulan atau tiap jalan), maintanance ganti oli (per sekian ribu kilometer), ganti kampas (per sekian ribu kilometer), perawatan AC, pajak per tahun (plat hitam lebih mahal), hingga kir per enam bulan.

“Hanya saja, karena jarak tempuh tidak sejauh AKAP, bisa jadi lebih murah biaya perawatannya. Intensitasnya kan tidak sebanyak AKAP yang seminggu bisa 2-3 kali PP. Misal tanding ke Solo, jarak sekitar 400 km, PP 800 km, untuk latihan sekitar Solo anggap 50 km,” sambungnya.

“Total 850 km seminggu sekali jika melihat jarak antar matchday. Kalau bus Malang-Jakarta 850 km itu satu hari, di situ kelihatan bedanya. Jadi, bisa jauh lebih irit biaya perawatannya ketimbang AKAP.”

Bus Arema Bisa Dikomersilkan Demi Pemasukan

Andreas menambahkan, sebenarnya biaya perawatan bus tim Arema itu bisa diakali dengan cara mengomersilkannya. Hanya saja, menurutnya, manajemen Arema harus berhati-hati dalam mengambil langkah satu ini.

Sebenarnya, bisa saja saat tak dipakai tim Arema bus tersebut digunakan untuk tur dalam kota bagi Aremania yang diharuskan membayar tiket perjalanan. Masalahnya, bus dari Gilang ini memakai plat hitam yang menurut Undang-undang dilarang mengangkut orang untuk tujuan komersil.

Jika ingin dikomersilkan, menurut Andreas, platnya harus diganti jadi plat kuning, layaknya bus pariwisata Macito milik Pemerintah Kota Malang. Penggantian warna plat itu pun tidaklah murah.

“Bisa diakali sebenarnya. Bukan sebagai bus pariwisata, karena ini bukan bus plat kuning. Bisa dipakai tur Aremania, tapi paling cuma muter-muter sekitar area Stadion Kanjuruhan, bukan di jalan umum. Yang mau naik bus ini harus bayar sekian rupiah,” tambah pria berusia 34 tahun itu.

“Kalau dipakai di jalan umum tidak boleh kalau plat hitam, harus punya izin tratek pariwisata. Kalau dibuat tur keliling kota untuk suporter tanpa ditiketkan ya malah rugi bensin, klub juga tidak dapat pemasukan.

Selain ganti warna plat nomor bus, Andreas punya masukan lain untuk program komersialisasi bus milik Arema. Menurutnya, bus itu bisa dipakai untuk tur ke pelosok Malang Raya.

“Saat tidak dipakai, bus bisa mendatangi desa-desa di Malang Raya secara bergiliran. Tidak lupa ada pemain Arema yang diajak. Nanti busnya diparkir di lapangan desa. Di situ Aremania bisa berfoto dengan bus dan pemain, dengan membayar sejumlah uang. Selain itu, bus bisa membawa beberapa merchandise offisial, sambil jualan, sekalian produk sponsor dibawa juga,” tandasnya.

 

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.