Andai Parit di Sekeliling Tribune Masih Ada, Kanjuruhan Disaster 2 Mungkin Tak Akan Terjadi

    Masih ingat parit di sekeliling tribune Stadion Kanjuruhan? Andai parit itu tidak ditutp cor, mungkin saja Kanjuruhan Disaster 2 tak akan terjadi.

    Tragedi yang terjadi usai laga Arema vs Persebaya Surabaya di Liga 1 2022-2023 Pekan 11 (1/10/2022) itu diklaim disebabkan oleh tembakan gas air mata yang bikin kepanikan, sehingga banyak korban. Hanya saja, ada klaim bahwa tembakan gas air mata ke tribune itu dilakukan karena masuknya penonton ke lapangan.

    Sejak diresmikan pada 9 Juni 2004, stadion ini memang dikelilingi sebuah parit dalam dan lebar. Kedalamannya mencapai kurang lebih dua meter, dan lebarnya sekitar satu meter.

    Posisi parit itu memisahkan antara tribune untuk penonton dan area sentelban. Butuh usaha keras bagi penonton yang ingin masuk ke lapangan, di mana harus melompati pagar tinggi, turun ke sela-sela antara parit dan sentelban, lalu melompat sekuat tenaga.

    Potensi Pitch Invasion Seperti Dalam Kanjuruhan Disaster 2 Muncul Sejak Musim 2013

    Potensi pitch invasion alias masuknya suporter ke area teknis lapangan muncul sejak musim 2013. Potensi itu ditimbulkan oleh dibangunnya tribune berdiri di bagian utara, timur, dan selatan.

    Tujuan awal dibangunnya tribune berdiri itu untuk menambah kapasitas stadion yang akhirnya bisa diklaim mencapai 45 ribu penonton. Tribune yang terhubung dengan tribune utama dan sebuah pintu ke sentelban itu berkontribusi menambah kapasitas sampai 10 ribu penonton.

    Hadirnya tribune tambahan itu praktis membuat parit-parit pemisah tribune dengan sentelban menghilang. Bagian atas parit itu tertutup oleh area datar untuk tribune berdiri.

    Dibangunnya tribune berdiri harapannya sekaligus dapat mencegah suporter meluber ke sentelban seperti dulu. Faktanya, pagat pembatas setinggi tiga meter tak lebih efektif daripada parit yang dulu, karena terbukti pada Liga 1 2018 dan final Piala Presiden 2019 masih sempat terjadi pitch invasion.