Apa Jadinya Aremania Disuruh Meliput Arema?

Apa Jadinya Aremania Disuruh Meliput Arema?

Laga Arema vs Persib Bandung dalam lanjutan Indonesia Super League (ISL) 2013 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang (31/5/2013) menjadi momen tak terlupakan bagi penulis. Selain karena kemenangan 1-0 Arema lewat gol telat Cristian Gonzales di menit 86, laga itu juga jadi debut penulis sebagai kuli tintanya Wearemania. Apa jadinya Aremania disuruh meliput Arema?

Banyak persiapan sehari sebelum menjalani debut tersebut. Mulai dari mencari ID card peliputan di kantor Arema (waktu itu masih di Jalan Kertanegara No. 7), mengikuti sesi press conference pre-match di tempat yang sama, dan tentunya persiapan fisik yang prima.

Waktu itu, untuk pertama kalinya masuk ke dalam Stadion Kanjuruhan tidak melalui pintu ekonomi, melainkan pintu VVIP (selatan pintu utama). Itu juga momen pertama kalinya penulis masuk ke kandang Arema tanpa membawa tiket, melainkan pakai ID card wartawan. Sebelumnya, saat masih ‘menjadi Aremania’, penulis selalu hadir di stadion melalui pintu 7 tribun ekonomi dan menggunakan tiket.

Karena ID card peliputan belum di tangan gara-gara belum selesai dicetak, penulis harus menunggu di depan pintu. Dengan berbekal sebuah nomor kontak anggota Media Officer Arema (lupa waktu itu antara Ovan atau Heru). Anggota MO itulah yang akhirnya memasukkan penulis setelah menunjukkan id press Wearemania. Ternyata pembagian ID press-nya ada di press room.

Aremania Disuruh Meliput Arema, Apa Bedanya?

Rasanya berbeda sekali duduk di tribun ekonomi dengan duduk di tribun media. Kalau sebelumnya di tribun ekonomi lebih sering berdiri, karena ada aturan tidak tertulis suporter dilarang duduk selama 2×45 menit. Bedanya, di tribun media serasa capek duduk selama 2×45 menit.

Tribun media dulu berada di tribun VVIP sekarang, yang ada kursi empuknya, tepat di bawah tribun kehormatan. Di tribun media juga ada kursi, yang dulu terbuat dari plastik seperti kursi di ruang tunggu rumah sakit), dan meja berbahan seng.

Satu hal yang paling tak bisa dilupakan penulis dari debut meliput Arema tersebut. Kala itu, penulis datang ke stadion dengan membawa tas ransel berisi laptop, dan peralatan ‘tempur’ lainnya untuk menulis laporan pertandingan.

Namanya Juga Aremania

Namanya juga suporter (Aremania), datang ke stadion pastinya mengenakan kaos Aremania, celana jeans, sandal Eiger, dan tak lupa syal Arema yang dibeli penulis waktu Arema menjadi juara ISL 2009-2010 dan setia menemani setiap datang memberikan dukungan langsung ke stadion selama bertahun-tahun.

Tak disangka, penampilan ala suporter itu mendapatkan kritikan keras dari nawak-nawak sesama awak media. Banyak yang mempertanyakan fungsi si penulis, yang seorang jurnalis, membawa syal ke stadion.

Kalau di tribun ekonomi oke lah, syal itu biasa dibentangkan saat mengumandangkan lagu Padamu Negeri sebelum kick-off pertandingan. Entahlah, di tribun media, momen tersebut harus lewat begitu saja. Memang, jika diperhatikan tak ada satu pun reporter/jurnalis yang melakukannya.

Pelajarannya, meski syal tersebut bisa dililitkan di leher sebagai penawar udara dingin di stadion, awak media dilarang keras membawa syal, apalagi beratribut Arema. Selama alasannya masuk akal, masih bisa diterima penulis.

 

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.