Tanpa Firasat, Putra Kiai Jadi Korban Kanjuruhan Disaster 2

Seorang putra kiai Pondok Pesantren Miftahul Ulum Ath-Thohirin Gondanglegi bernama Syahrulloh Bin Abdul Jalil. Aremania Gondanglegi ini pergi tanpa firasat.

Peristiwa ini terjadi usai laga Arema vs Persebaya Surabaya di Liga 1 2022-2023 Pekan 11, Sabtu (1/10/2022) malam. Selain Syahrulloh, setidaknya ada 124 korban jiwa lainnya.

Sepupu korban, Abdus Syakur bercerita, pihak keluarga mendapat kabar meninggalnya Syahrulloh pada pukul 12.00 malam. Dari temannya, Syahrul dikabarkan sudah meninggal di RSUD Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malamg.

“Tidak ada firasat apa-apa, dia baik-baik saja. Tiap berangkat ke stadion dia selalu berpamitan, salim sama ibunya, pamit bilang saya berangkat nonton Arema,” kata Syakur ditemui WEAREMANIA di pondoknya.

“Bukan cuma di mata keluarga, di mata teman-temannya Syahrul adalah Aremania. Sejak dia kelas 3 (Madrasah) Tsanawiyah, dia tiap ada Arema di Kanjuruhan selalu hadir.”

Jadi Korban Kanjuruhan Disaster 2 Meninggal di Tribun

Menurut info dari teman korban, Syakur tahu jika Syahrulloh ditemukan meninggal di tribun Stadion Kanjuruhan. Menurutnya, penyebab meninggalnya sang sepupu karena sesak napas.

“Tidak ada luka sama sekali di tubuhnya. Menurut keterangan temannya, dia tidak turun ke lapangan, memang ketemunya tergeletal di tribun,” imbuhnya.

“Jadi dia sesak napas kena tembakan gas air mata. Kebetulan dia punya riwayat asma. Teman-temannya bilang mereka tidak bisa keluar dari tribun selatan.”

Terimakasih Atas Kunjungan Tim Arema

Syakur berterimakasih kepada tim Arema yang berziarah ke Ponpes Miftahul Ulum Ath-Thohirin, rumah Syahrulloh. Mereka pun menyempatkan mengirim doa di makam Aremania yang meninggal di usia 18 tahun tersebut.

“Terimakasih sekali, kami mengapresiasi. Kami sangat gembira dari keluarga mendapat kunjungan dari tim Arema. Ini menjadi semangat tersendiri untuk move on kembali, sehingga tidak terlalu bersedih,” sambungnya.

Syakur berharap ada solusi terbaik untuk dunia sepak bola Indonesia. Namun, ditegaskannya, rasa trauma tak akan membuat keluarganya berhenti menjadi Aremania.

“Tidak ada larangan untuk terap mendukung Arema, saya sendiri Aremania. Trauma pasti ada, tapi kan bisa dihilangkan. Kalau kita cinta bola dari hati itu beda

“Semoga semua pemain Arema baik-baik saja dan almarhum diterima amal ibadahnya. Semoga ada solusi terbaik untuk keluarga korban juga, baik dukungan atau apa pun itu.”