Makna Tradisi Pemain Arema Berdiri di Bawah Mistar Gawang Terungkap

Makna Tradisi Pemain Arema Berdiri di Bawah Mistar Gawang Terungkap
Tradisi pemain Arema berdiri di bawah mistar gawang (C) AREMAFC.COM

Aremania sejati pasti tahu tradisi pemain Arema berdiri di bawah mistar gawang yang dilakukan saat kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2011-2012. Makna tradisi yang tak banyak diketahui itu akhirnya terungkap.

Kapten Tim Arema di ISL 2011-2012, Khusnul Yuli menceritakannya. Menurutnya, tradisi itu merupakan ide dari Seme Pierre Patrick, salah seorang pemain asing Arema kala itu.

Jadi, sebelum kick-off, 11 pemain Arema yang masuk dalam starting line-up berdiri berpegangan tangan di bawah mistar gawang yang ditempati tim. Setelah berdoa bersama, mereka mengayun-ayunkan tangan yang tetap bergandengan, lalu bersiap bertanding.

“Itu sebenernya ide Semme Patrick, lalu disampaikan kepada saya. Intinya berdoa bersama. Kami berpegangan tangan di bawah mistar gawang sambil berdoa sebelum kick-off, tapi dengan cara yang berbeda,” kata Yuli kepada WEAREMANIA.

Tradisi Pemain Arema di Musim Paling Tragis

Khusnul Yuli menyebut musim 2011-2012 itu sebagai salah satu musim paling tragis yang dijalani Arema. Selain sebagai awal cerita dualisme Arema, di musim itu skuad Singo Edan sempat terpuruk prestasinya di jurang degradasi hingga pertengahan musim.

Menurutnya, salah satu penyebab terpuruknya Arema adalah materi pemain yang seadanya di putaran pertama. Alasan itu pula lah yang membuat Aremania akhirnya memberikan tekanan kepada manajemen klub.

“Itu musim yang sangat-sangat tragis, waktu itu Arema ada dua kubu. Materi pemain Arema di ISL saat itu cuma seadanya. Makanya tak heran jika kami ditinggalkan suporter. Akhirnya mereka menekan manajemen klub untuk melakukan perombakan di paruh musim,” imbuhnya.

Buah dari Perombakan Pemain di Paruh Musim

Khusnul Yuli ingat betul bagaimana manajemen Arema memulangkan pemain-pemain binaan seperti Kurnia Meiga, Dendi Santoso, Johan Farizi, Sunarto, Muhammad Ridhuan, dan lain-lain. Mereka yang didatangkan di bursa transfer paruh musim menjadi tulang punggung tim di putaran kedua.

“Barulah pada paruh musim dilakukan perombakan pemain, gerbong Ridhuan datang setelah ada tekanan dari suporter. Di paruh kedua kami akhirnya bangkit, hingga selamat dari degradasi. Segala upaya kami lakukan waktu itu. Saya pribadi berusaha keras, karena waktu itu kalau Arema degradasi, bisa-bisa saya dihujat banyak orang,” tandasnya.

 

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.