Momen Arema Juara Galatama 1992-1993 di Mata Nanang Hidayat

Hari ini, 29 Juli 2021 tepat 28 tahun Arema juara Galatama 1992-1993. Apa yang berkesan bagi Nanang Hidayat, kiper utama Arema kala itu?

Nanang menceritakan pengalamannya membawa Arema menjadi kampiun untuk pertama kalinya sejak didirikan pada 11 Agustus 1987. Yang paling berkesan baginya tentu di pertandingan terakhir, Arema menjamu Mitra Surabaya.

Hasil pertandingan lainnya, Barito Putera vs PKT Bontang ternyata turut menentukan klasemen akhir. Karena PKT sebagai saingan utama Arema di klasemen kalah, dan Arema mampu mengalahkan Mitra, maka trofi juara Galatama musim itu diboyong ke Malang.

“Waktu itu pertandingannya sama-sama sore. Kami tidak memikirkan hasil pertandingan lain, tapi waktu tahu PKT kalah kami senang. Apapun hasilnya lawan Mitra Surabaya, kalau PKT kalah, kami juaranya,” kata Nanang kepada WEAREMANIA.

Arema Juara Galatama 1992-1993 karena Kompak dan Dekat dengan Suporter

Nanang Hidayat menambahkan, saat Arema menjadi juara Galatama 1992-1993, belum dikenal nama Aremania. Namun, para pendukung Arema kala itu dikenal memiliki kedekatan yang sangat akrab dengan para penggawa Singo Edan.

Pada momen juara Galatama 1992-1993 itu, bahkan ribuan pendukung Arema turun ke jalan untuk berkonvoi keliling kota. Aksi tersebut juga berkesan bagi Nanang yang kini menetap di kampung halamannya, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama keluarganya.

“Yang paling berkesan adalah kekompakan antar pemain di dalam maupun luar lapangan. Selain itu, kedekatan antara pemain dengan suporter juga luar biasa. Ini kunci keberhasilan Arema menjadi juara saat itu,” imbuhnya.

Bermodal Karakter Keras yang Ditanamkan Pelatih

Salah satu kunci kesuksesan Arema ketika menjuarai Galatama 1992-1993 waktu itu menurut Nanang Hidayat juga karena karakter keras yang ditanamkan pelatih. Saat mengangkat trofi juara, Arema dilatih oleh Gusnul Yakin.

“Tapi, jangan lupa, yang menanamkan karakter kepada pemain itu adalah pelatih (Muhammad) Basri, yang di tengah musim keluar dari Arema. Gusnul cuma meneruskan saja pondasi yang dibangun sebelumnya. Pemain sudah kompak, dan punya karakter keras, lugas, disiplin, seperti yang ditanamkan pelatih sebelumnya,” tandasnya.

 

Subscribe channel Youtube kami, ikuti kami di Instagram dan gabunglah bersama kami di Facebook untuk menjadi bagian dari komunitas Arema dan Aremania.